Showing posts with label FF (Fan Fiction). Show all posts
Showing posts with label FF (Fan Fiction). Show all posts

Friday, September 21, 2012

FF - SOMETHING//SHINee-Super Junior//Part VII



YA UHUK UHUK ! ANNYEOOOOONG ! 
mia disini ! author geje dengan ff yg gejenya dtng lagi. ada yang kangen ga ?! ga ada ?! *pulang*
mian aku bener-bener lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget nerusin ff ini. bener2 stuck ditengah jalan. semoga ga ancur deh ff nya. 
mumumumu :*

=======HAPPY READING======

TITLE                  : Something
MAIN CAST         : Kyuhyun ( Super Junior ) as Cho Kyuhyun
                             Minho ( SHINee ) as Choi Minho
                             Key (SHINee) as Kim Kibum
                             Shin Neul Yong (OC’s)
OTHER CAST       : Shin Yoonmi (OC)
                              Choi Eunsoo (OC)
                              dan yang lainnya temukan sendiri dalam FF
LENGTH                : CHAPTERED
GENRE                  : Family, Friendship, Romance
RATING               : PG -15
AUTHOR              : MutiaMia Andara
DISCLAIMER       : Semua cast punya orang tuanya masing2 kecuali Shin Neul Yong dan Other Cast nanti nya..
I hate SIDERS and don't be PLAGIATOR

PREVIOUS CHAPT

Begitu lama mereka berpelukan sampai akhirnya Kyuhyun mendengar dengkuran halus. Neul Yong tertidur dalam pelukannya. Mungkin lelah sehabis menangis. Kyuhyunpun melepas pelukannya dan membaringkan Neul Yong. Menyelimutinya hingga batas dagu. Ia menatap Neul Yong dengan pandangan penuh kasih. Mengelus lembut pipi Neul Yong. Tersenyum melihat adik kecilnya yang sudah beranjak dewasa ini. Lalu ia mencium kening Neul Yong, merambat kehidung Neul Yong dan terakhir menyentuh bibir mungil Neul Yong.

Namun Kyuhyun terhentak kaget. Ia segera melepas ciuman itu. Apa yang ia lakukan ? Mencium bibir adiknya sendiri ? Apa yang tengah dipikirkannya ? Kyuhyun segera berdiri dan berbalik. Meninggalkan Neul Yong yang terlelap. Tapi langkahnya terhenti melihat Kibum tengah berdiri diambang pintu. Terdiam dan menatapnya tajam.

“ Oh, Kibum. Ada apa ? ” Kyuhyun mencoba untuk tidak panik dan bersikap tenang. Dilihatnya sorot mata Kibum masih tajam. “ Aniyo. Aku hanya ingin melihat keadaan Neul Yong. Ternyata ia sudah tidur. ”

“ Ne. Ia baru saja tidur. Lebih baik kau juga tidur. Masih ada kuliah besok bukan ? ” Kyuhyun pun berjalan melewati Kibum dan masuk kedalam kamarnya yang tepat disamping kamar Neul Yong. Kibum menatap tajam punggung Kyuhyun yang baru saja hilang dibalik pintu  . Didalam benaknya masih terpikirkan kejadian yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. 

CHAPTER 7B

Matahari sudah bangun dari peradapannya. Mulai menyongsong kehidupan disebagian belahan bumi. Shin Neul Yong terbangun dari alam mimpinya begitu alarm yang berada dimeja nakasnya berbunyi nyaring. Mengerang dengan keras sebelum tangannya yang mungil itu meraba-raba meja nakasnya dan menekan tombol alarm untuk berhenti mengeluarkan bunyi yang memekakkan telinga.

Merenggangkan badannya sebentar lalu beranjak dari ranjangnya yang nyaman ini. Berniat untuk membasuh mukanya dan menggosok giginya sebelum ia memulai aktivitasnya di minggu yang cerah ini. Walaupun sinar matahari tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap suhu yang sekarang berada diatas 5 derajat.

Setelah selesai membasuh muka dan menyikat giginya, Neul Yong beranjak kedapur untuk membuat sarapan untuk dirinya dan juga kedua kakaknya. Masih belum terlihat batang hidung dari kedua kakaknya yang menandakan bahwa mereka berdua masih tidur.

Neul Yong memakai apron yang sudah biasa ia kenakan dan kemudian melihat isi kulkas. Memandang isi yang ada didalam kulkas tersebut dan setelah menimang-nimang, ia memutuskan untuk membuat omelet keju dengan saus asam manis.

Ia mengeluarkan semua bahan yang ia butuhkan dan kemudian menyiapkan alat-alat masaknya. Mencampur semua bahan menjadi satu dan kemudian mengaduk-aduk adonan telur tersebut sedikit lama agar semua tercampur rata. Setelah itu, ia menyiapkan wajan panas dan mulai memasak. Membuat Omelet keju adalah hal yang mudah bagi Neul Yong mengingat ia sudah belajar memasak sejak dirinya tinggal dipanti asuhan.

Bibi-bibi yang ada dipanti selalu mengajarkan para anak perempuan untuk memasak setiap satu minggu sekali. Dan itu sangat berguna bagi kehidupannya yang sejak beberapa tahun lalu, bersama dengan 2 kakaknya ini memutuskan untuk keluar dari panti asuhan tersebut.

Neul Yong tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian dulu saat ia diajari cara memasak oleh bibi-bibi dari panti.

“ Kenapa kau senyum-senyum sendiri ? ”

Suara itu membuat Neul Yong tersentak kaget. Kyuhyun yang sudah duduk-entah sejak kapan- dikursi meja makan tengah memandang Neul Yong heran. Neul Yong kembali tersenyum. Membuat Kyuhyun mengerutkan dahinya.

“ Aniya. Aku hanya mengingat saat bibi dipanti mengajari aku memasak. ”

Kerutan didahi Kyuhyun menghilang dan digantikan dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat. “ Kau merindukan mereka ? ”

Neul Yong memandang Kyuhyun dan mengangguk. “ Sangat. ”

Kyuhyun terlihat berpikir. Dan akhirnya berkata, “ Bagaimana kalau kita mengunjungi mereka hari ini ? ”

Neul Yong menaikkan alisnya. Tidak menyangka kakaknya akan mengatakan seperti ini.

“ Jeongmal ? Oppa mau kita kesana ? ”
Kyuhyun mengangguk, “ Ya. Lagipula juga kita sudah lama tidak kesana. Aku ingin sekali bertemu dengan Jung Ahjumma. Ingin memberitahukan kelulusanku. ”

Neul Yong tersenyum lebar. “ Baiklah oppa. Selesai sarapan, aku akan mandi dan kita akan berangkat. Aigoooo, aku sudah tidak sabar. ”

Kyuhyun hanya bisa tersenyum simpul melihat sikap adiknya ini. Melihat Neul Yong senang saja, sudah membuat dirinya sebahagia ini. Ia ingin selalu membuat adiknya tersenyum, sampai kapanpun.

“ Kibum Oppa dimana ? ” Tanya Neul Yong begitu ia membawakan dua piring yang berisi omelet dan kemudian meletakkannya diatas meja.

“ Kibum sudah berangkat dari tadi. Ia ada kuliah minggu pagi ini. ”

Neul Yong hanya ber-OH ria. Dan kemudian duduk tanpa kembali lagi kedapur untuk mengambil satu piring lagi omelet yang tadi ia buatkan untuk Kibum. Melihat kakaknya yang satu itu sudah berangkat duluan dan tidak sarapan seperti biasanya.

“ Aku tidak suka kalau Kibum Oppa tidak sarapan. Kalau tiba-tiba dia sakit bagaimana ? Aishhh, dia itu tidak pernah belajar dari kejadian sebelumnya. Kau ingat kan Oppa saat tiba-tiba perutnya sakit dan ia harus menginap dirumah sakit karena dia jarang sarapan ?! Aishh, Jinjja.”

Kyuhyun hanya mendengarkan omelan dari Neul Yong tanpa berhenti melahap omelet kejunya.

“ Oppa, nanti kau antarkan aku ke kampus Kibum Oppa ya. Aku ingin memberikan omeletku. Aku tidak ingin dia terus-terusan makan sembarangan. ” Kyuhyun hanya mengangguk saja.

Setelah mereka sarapan, Neul Yong membawa kedua piring tersebut kedapur dan berniat mencucinya. Namun sebelum ia membuka keran air, Kyuhyun menahannya.

“ Biar aku yang cuci. Kau siapkan makanan untuk Kibum saja. ” Neul Yong pun menurut dan ia mengambil piring dengan omelet diatasnya lalu menaruhnya dikotak bekal. Namun langkahnya terhenti. Neul Yong mengetuk-ngetukkan telunjuknya didagu tanda bahwa ia sedang berpikir. Kalau Kibum kuliah, otomatis ada Minho juga. Tidak enakkan kalau hanya memberikan bekal untuk Kibum saja ?

Neul Yong akhirnya membuka kulkas yang persis disampingnya lalu mengambil bahan-bahan yang sama untuk membuat omelet keju tadi. Kyuhyun yang sudah selesai mencuci merasa heran dengan Neul Yong. Untuk apa ia membuat omelet lagi padahal omelet yang tadi untuk Kibum masih ada dan belum disentuh sama sekali ?

“ Kau buat untuk siapa lagi ? ” Tanya Kyuhyun ketika melihat adikknya tengah menggoreng telurnya.

“ Minho Oppa. Aku berpikir kalau ada Kibum Oppa di kampus, otomatis akan ada Minho Oppa disana. Aku merasa tidak enak jika hanya memberikan bekal ini kepada Kibum Oppa saja. Maka dari itu, sekarang aku membuatnya untuk Minho Oppa. ” Jelas Neul Yong panjang. Rahang Kyuhyun berubah mengeras begitu ia mendengar nama Minho. Kedua tangannya terkepal disamping tubuhnya.

“ Lebih baik kau mempercepat masakmu. Kita berangkat 30 menit lagi. ” Dan Kyuhyun pun meninggalkan Neul Yong yang tengah memandangnya dengan alis berkerut. Sependengarannya tadi, Kyuhyun mengucapkan itu dengan nada yang menurutnya sangat sinis.

Neul Yong hanya mengangkat bahunya acuh dan kemudian melanjutkan kembali memasak.

****

“ Oppa, eodiga ? Aku ada didepan kampusmu. Cepat kesini. ” Neul Yong berbicara kepada Kibum lewat ponselnya. Ia dan Kyuhyun sedang menunggu Kibum ditaman kampus sambil duduk-duduk dibangku taman yang kosong. Hari ini salju turun lumayan banyak. Membuat banyak sekali jalanan dikampus ditutupi oleh salju.

“ Aku bersama Kyuhyun Oppa disini. Palli. Disini dingin sekali. Aku membawakan sarapan untukmu. ” Neul Yong masih berbicara dengan Kibum.

“ Eoh. Kau sedang bersama Minho Oppa juga tidak ? Aku membawakan makanan juga untuknya. ”

“...”

“ Ye. Palliwa Oppa. Hmm. Annyeong. ”

Neul Yong pun memutuskan sambungan dan setelah itu memasukkan ponselnya kedalam tas.

“ Bagaimana ? ” Tanya Kyuhyun.

“ Kibum Oppa baru saja keluar kelas. Ia akan tiba sebentar lagi katanya. ”

****

“ Nugu ? ” Tanya Minho begitu Kibum kembali memasukkan ponsel kedalam saku celanany a. Kibum menoleh kearah Minho dan tersenyum.
“ Pacarmu. ” Ucapnya enteng.

“ Nugu ? ” Minho menaikkan alisnya, heran. Ia belum punya pacar dan siapa yang dimaksud Kibum dengan ‘pacarnya’ ?

“ Aish, kau ini. Neul Yong. Dia sudah ada di depan kampus. ”

Minho langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar nama Neul Yong. Menatap Kibum lekat. “ Neul Yong ? Ada apa dia kemari ? ”

“ Makan. Dia membawakan sarapan untukku. Dia itu paling tidak suka kalau aku tidak sarapan. ” Kata Kibum sembari membereskan buku-bukunya yang masih berserakan diatas meja.

“ Oh.” Terdengar nada malas dalam suara Minho. Ia kira Neul Yong kemari untuk menemuinya. Namun ternyata ia salah duga.

“ Dan katanya ia membawakan sarapan juga untukkmu. ”

“ Mwo ? Jeongmal ? ” Suara Minho kembali semangat begitu ia tahu bahwa Neul Yong membawakan sarapan untuknya. Beruntung sekali dirinya. Ia memang belum sarapan sejak tadi. Ibunya masih tidur ketika ia berangkat, sedangkan Eunsoo, jangan harap ia memasak. Menyentuh peralatan dapur saja ia tidak pernah.

Kibum mengangguk. “ Eoh. Kajja. Kasihan dia dan hyong menunggu diluar. ”

Minho menatap Kibum tidak percaya. Neul Yong bersama dengan Kyuhyun ? Untuk apa ? Aish, mendengar nama itu saja sudah membuat dirinya panas.

Kibum menoleh kearah Minho. Melihat perubahan sikap Minho ketika ia menyebut ‘hyong’ dalam ucapannya. Ia tahu bahwa Minho tidak menyukai Kyuhyun. Dan ia juga tahu bahwa Minho merasa Kyuhyun adalah saingan beratnya. Saingan dalam memperebutkan cinta Neul Yong.

Minho bukanlah tipikal orang yang akan menyerah begitu saja. Ia orang yang tidak pernah mau kalah. Apapun yang menjadi ambisinya harus ia dapatkan. Begitulah Minho. Ada sisi positif maupun sisi negatif mempunyai sifat sepertinya. 

“ YA ! Jangan melamun. Cepat kita ke Neul Yong. Dia sudah kedinginan. ” Kibum pun  memecah kesunyian dengan mengguncang bahu Minho. Membuat menggelengkan kepalanya lalu menatap Kibum.

“ Baiklah.”

****

“ Aish, mana sih Kibum Oppa ? Dingin sekali disini ! ” Neul Yong menggosok-gosokkan kedua tangannya agar hawa dingin yang ia rasakan sedikit berkurang. Namun tetap saja, hawa dingin itu hanya berkurang sepersekian persen. Dingin yang ia rasakan sudah mencapai batas maksimum. Ia sangat kedinginan.

“ Kenapa saat kau tahu cuaca seperti ini kau malah tidak membawa sarung tangan ? ” Kyuhyun yang memperhatikannya sejak tadi hanya bisa mendengus heran melihat kelakuan adiknya ini.

“ Aku lupa. Salah oppa sendiri juga yang menyuruhku cepat-cepat ! ” Neul Yong menatap Kyuhyun dan menggembungkan pipinya. Sebal. “ Oppa juga tidak memakai sarung tangan. Jadi jangan memarahiku juga.”

“ Oppa itu laki-laki. Dan juga masih bisa menahan dingin. Sedangkan kau ? Lihat, sudah menggigil seperti itu. ”

“ Oppa kan enak dijaketnya ada kantung. Aku ? Mana ada model jaket wanita yang memakai kantung ? ”

“ Aishh, kau ini memang tidak pernah mau disalahkan. ”

“ Biarkan. ” Neul Yong memehrongkan lidahnya lalu kembali lagi mengusap-usap tangannya.

Kyuhyun tersenyum menatap adiknya. “ Kemarikan tanganmu. ” Kyuhyun menengadahkan telapak tangannya. Hendak meminta uluran tangan Neul Yong. Neul Yong menatap telapak tangan Kyuhyun dan wajah Kyuhyun bergantian. Kedua alisnya terangkat, heran.

“ Untuk apa ? ”

“ Sudah, kemarikan saja. ” Kyuhyun yang gemas melihat respon adiknya yang sedikit lambat pun merebut tangan kiri Neul Yong. Ia menggenggam tangan tersebut lalu memasukkannya kedalam kantung jaketnya.

“ Nah, hangat bukan ? ” Kyuhyun tersenyum menatap Neul Yong yang sedikit terperangah dengan tingkah kakaknya yang satu ini. Detiknya berikutnya ia pun membalas senyum Kyuhyun dan mengangguk. “ Eumm, Gomawo Oppa. ”

Dan selanjutnya mereka menunggu kedatangan Kibum dengan sebuah keheningan. Suara terpaan angin yang dingin sedikit membuat bulu kuduk meremang. Cuaca di Seoul ketika musim dingin akan menurun drastis.
Melihat salju yang jatuh dari langit memberikan sebuah suasana yang damai nan romantis. Kyuhyun dan Neul Yong sangat menikmatinya. Dan kenikmatan itu sedikit terganggu begitu mereka mendengar suara yang begitu familiar ditelinga mereka.

“ Neul Yong, Hyong. ”

Kyuhyun dan Neul Yong menoleh bersamaan. Dilihatnya Kibum tengah melambai kearah mereka. Dan disampingnya terdapat namja dengan tubuh tinggi atletis memandang mereka berdua tajam. Kyuhyun tahu tatapan itu. Tatapan tidak suka dari seorang Choi Minho.

Mendengar itu, dengan refleks Neul Yong melepaskan genggaman tangannya dan mengambil 2 kotak makan yang ia letakkan disamping kanannya lalu berlari kearah Kibum.

“ Oppa, dari mana saja kau ? Aku dan Kyuhyun Oppa kedinginan tahu ! ” Neul Yong menggembungkan pipinya, kesal.

“ Hahaha, Mianhae. Oppa sedang membereskan buku-buku tadi. Jadi sedikit lama. Mana sarapan untukku ? ” Ucap Kibum sembari menengadahkan tangannya. Meminta jatah sarapannya.

Neul Yong memberikan sekotak makanan yang ada ditangan kirinya kepada Kibum lalu tangan kanannya memberikan sekotak lagi untuk Minho. “ Oppa, Untukmu. Aku tadinya hanya ingin memberikan sarapan untuk Kibum oppa, tapi karena aku tahu pasti kau selalu bersamanya, otomatis aku buatkan juga untukmu. Igeo. ”

Minho pun menerimanya. Mengacak-acak rambut Neul Yong dan tersenyum, “ Gomawo, Neul Yong. ”

“ Cheonman, Oppa. Sudah ya. Aku pergi dulu. Aku dan Kyuhyun Oppa mau kepanti asuhan. ”

“ Ke panti ? Kenapa tidak mengajakku ? Aku juga ingin kesana. ” Rengek Kibum.

“ Tidak bisa. Kau kuliah saja, Oppa. Nanti akan aku sampaikan salammu kepada Jung Ahjumma dan yang lainnya. Annyeong. ” Neul Yong melambaikan tangannya kearah Kibum dan Minho lalu berlari menghampiri Kyuhyun yang sudah menunggu diatas motornya.

Neul Yong menerima helm putih yang biasa ia pakai lalu menaiki motornya. Duduk dijok belakang. Dan kemudian ia memeluk pinggang Kyuhyun sebelum Kyuhyun menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.

Minho hanya menatap dari jauh kepergian Neul Yong bersama dengan Kyuhyun. Rasa tidak sukanya kepada Kyuhyun semakin hari semakin bertambah. Kibum menatap Minho yang tengah menatap kepergian Neul Yong dan Kyuhyun dari jauh. Menghela nafas panjang. Sepertinya Minho dan Kyuhyun akan menjadi rival. Mengingat mereka menyukai orang yang sama. Ya, Shin Neul Yong.

****

Jarak yang ditempuh Seoul-Incheon tidak membutuhkan waktu lama. Sekarang mereka sudah tiba dipemukiman dekat panti. Kyuhyun memakirkan motornya didekat gang agar mereka bisa masuk. Hanya tinggal beberapa meter lagi mereka sampai. Rumah dengan pohon cemara besar yang berada dihalaman rumah sudah dapat dilihat dari dekat. Kyuhyun dan Neul Yong saling memandang dan tersenyum penuh arti. Sebentar lagi mereka akan bertemu dengan Jung ahjumma dan juga bibi-bibi lainnya.

Dan tepat saat mereka didepan pagar rumah tersebut, tertulis “ Panti asuhan JUNG SIN YONG”. Terlihat dihalaman mereka yang luas, anak-anak kecil sedang bermain salju. Ada yang membuat boneka salju dan juga bermain perang bola salju. Kyuhyun memarkir motor didepan pagar dan Neul Yong memasuki halaman rumah tersebut.

Anak-anak kecil itu segera terdiam melihat Neul Yong yang disusul dengan Kyuhyun yang berdiri dibelakangnya masuk kedalam halaman. Salah satu dari anak kecil itu berteriak, “ JUNG HALMEONI ! ADA ORANG DATANG ! ”

Kyuhyun dan Neul Yong berpandangan dan tertawa kecil melihat kelakuan anak kecil itu. Kelakuannya mengingatkan mereka saat masih seumuran dengan anak kecil itu. Selang beberapa menit kemudian, anak kecil itu keluar dengan menarik-narik tangan seorang ahjumma yang umurnya sudah lanjut.

“ Itu halmeoni, itu. Ada orang dewasa datang. ” Tunjuk anak kecil itu dengan tangan kirinya sembari tangan kanannya menarik ujung baju dari ahjumma tersebut.

“ Siapa yang... ” Pandangan ahjumma tersebut terhenti begitu ia melihat Neul Yong dan Kyuhyun yang tersenyum memandangannya.

“ Kyuhyun ? Neul Yong ? ”

“ Ne, Jung ahjumma. Ini kami. ” Ujar Kyuhyun. Neul Yong tidak sanggup menjawab karena ia sudah mulai terisak. Dan akhirnya Neul Yong berlari meninggalkan Kyuhyun dan memeluk Ahjumma tersebut.

“ Ahjumma. Hiks. Hiks. Hiks. Nan jeongmal bogoshipta. Hiks. Hiks. ”

“ Neul Yong-ah.. Kau sudah besar nak. Nado. Nado bogoshipta. ” ahjumma yang ternyata bermarga jung itu mengelus-elus punggung Neul Yong. Matanya sudah dibasahi dengan air mata. Tersenyum bahagia melihat anak-anak yang dulu sempat tinggal disini sudah beranjak dewasa.
Kyuhyun menghampiri Neul Yong dan Jung ahjumma yang masih saling melepas rindu. Tersenyum begitu matanya dan mata jung ahjumma saling pandang. Kyuhyun membungkukkan 90 derajat tubuhnya. Kembali tersenyum. “ Apa kabar ahjumma ? ”

Neul Yong dan Jung ahjumma melepas pelukan mereka. Neul Yong masih terisak walau isakannya itu sudah mulai mereda. Jung ahjumma menatap Kyuhyun dan Neul Yong bergantian sebelum menjawab, “ Aku baik-baik saja. Seperti yang kalian lihat. Bagaimana dengan kalian ? Dimana Kibum ? ”

“ Kibum masih ada jam kuliah, ahjumma. Jadi hanya aku dan Neul Yong yang bisa mampir kesini. ” Jawab Kyuhyun. Neul Yong menimpali dengan anggukannya. “ Ayo masuklah. Yang lain pasti akan terkejut dengan kedatangan kalian. ” Jung ahjumma mengajak Neul Yong dan Kyuhyun masuk. Mereka berdua mengangguk dan mengikuti Jung ahjumma untuk masuk kedalam hunian yang pernah mereka tinggali dulu.

****

Setelah melepas rindu dengan semua bibi yang ada di panti, Kyuhyun memutuskan untuk keluar rumah sebentar. Berjalan-jalan dan kemudian duduk di ayunan yang terletak persis dibawah pohon cemara.

Menatap pekarangan rumah yang dipenuhi oleh salju yang menggunung membuat Kyuhyun menghela nafasnya. Terkenang dengan masa lampau dulu. Dari saat ia masih berumur 3 tahun sampai ia memutuskan bersama dengan Kibum dan Neul Yong keluar dari panti ini.

“ Sedang melamun nak ? ” Sebuah suara mengagetkan Kyuhyun dari lamunanya. Entah sejak kapan Jung Ahjumma sudah duduk disampingnya.

“ Ah, aniyo. ” ucap Kyuhyun mencoba berkilah. Jung ahjumma hanya tersenyum menanggapi tingkah Kyuhyun.

“Bagaimana kabar kalian semua ? Baik-baik saja ?” tanya Jung ahjumma.

“ Sangat baik ahjumma. ” Kyuhyun tersenyum dan kemudian ia kembali memandangi pepohonan.

“ Neul Yong.. Apakah ia tidak pernah menanyakan tentang keluarga kandungnya ? ”

Kyuhyun menoleh kearah Jung ahjumma. Dan alisnya berkerut tanda kurang mengerti.

“ Aniyo, ahjumma. Waeyo ? ”

Kyuhyun melihat Jung ahjumma menghela nafasnya dan kemudian terlihat beliau merogoh-rogoh saku roknya. Memperlihatkan sebuah bandul kalung dengan satu cincin yang tergantung. Kyuhyun menatap heran kalung itu. “ Punya siapa, ahjumma ? ”

“ Kalung ini ? Ini sesungguhnya kalung yang dulu dipakai Neul Yong saat ia ditemukan di depan panti ini. ” Kyuhyun hanya terdiam melihat kalung yang dipegang oleh Jung ahjumma. Dan kemudian ia mengulurkan tangannya.

“ ahjumma, boleh aku lihat kalungnya ? ” Jung ahjumma menoleh dan kemudian memberikan kalungnya. Kyuhyun mengamati bentuk kalung tersebut. Lebih tepatnya cincin yang ada dikalung itu. Rasanya ia cincin itu tidak asing dimatanya. Ada seseorang yang pernah memakai cincin yang sama seperti ini.

“ Kalung itu aku titipkan padamu, Kyuhyun-ah. Tolong kau berikan ini kepada Neul Yong.” Ujar Jung ahjumma tiba-tiba. Membuta konsentrasi Kyuhyun untuk mengingat siapa yang pernah memakai kalung seperti ini terpecah. Ia menoleh sekilas kearah Jung ahjumma dan kemudian mengangguk.

“ Ne, ahjumma. ”

****

Kibum yang sedari tadi memakan bekal yang dibuatkan Neul Yong, memandang heran sahabat yang duduk dihadapannya ini. Minho hanya menatap kotak bekal dengan menu makanan yang sama sepertinya dan tidak menyentuh sedikit pun makanan itu sejak 10 menit yang lalu.

“ Kenapa kau tidak makan bekalmu, Minho ? Bukannya tadi kau bilang kalau kau lapar ?”

Minho yang mendengar panggilan Kibum mendongakkan wajahnya dan menggeleng, “ nafsu makanku hilang. ” Jawabnya.

“ Bekalmu boleh buatku tidak ? aku lapar sekali. ” Tanya Kibum kembali. Dan sang empunya bekal itu hanya mengangguk pasrah. Kibum dengan segera mengambil bekal makanan Minho dan kemudian memakan kembali omelet tersebut. 

'tidak akan ada seorang pun yang boleh ,erebutnya dariku. TIDAK ADA !'

TBC

EHEHEHEHE ! *nyengir ala chanyeol*
segitu dulu ya partnya. mian mian cuma sediiikiiiiiiiiit bgt :) Jangan lupa RCL nya ya. Sampai jumpa di chapt selanjutnya :)
READ MORE - FF - SOMETHING//SHINee-Super Junior//Part VII

Monday, July 2, 2012

FF - Enervated Love//ONESHOOT//SHINee-Onew

Berhubung FF Something belum di post kelanjutannya sama authornya...
Ini admin bawain FF lainnya dulu yah...
===================Happy Reading=======================

TITLE               : Enervated Love
MAIN CAST      :  Lee Jinki (SHINee)
                        Kim Rin Young
                        Lee Junho (2PM)
GENRE             : entah mengapa selalu ROMANCE, Little Angst
LENGTH           : ONESHOOT
AUTHOR          : MutiaMia Andara
DISCLAIMER    : Plot ini punya aku.. Main castnya hanya semuanya punya Allah SWT..
Be a GOOD Reader ya 
“ Oppa..”
“ Hmm ?”
“ Saranghae..”
“ Nado Saranghae, Rin Young-ah. Tapi kau tahukan kalau aku sudah punya yeojachingu ?  ”
=========
             Aku menghela nafas. Lagi. Ini sudah kesekian kalinya aku menghela nafas. Entah mengapa perasaanku selalu terasa berat. Ya. Bahkan sangat berat setelah tahu bahwa Junho oppa mempunyai yeoja chingu. Padahal dia tahu bahwa aku sangat menyukainya. Entahlah apa yang ada dipikirannya. Setiap aku menyatakan rasa sukaku, dia akan menjawab,” Aku juga. Tapi, kau tahukan kalau aku sudah punya yeoja chingu ? ” dan setelah itu ia akan meminta maaf kepadaku. Hal itu sudah berulang kali terjadi.
Semakin lama aku semakin muak. Muak karena merasa perasaanku dipermainkan olehnya. Muak karena ia tidak mengerti apa yang kurasakan. Sakit. Perih. Hatiku ini terasa ditusuk oleh ribuan jarum. Begitu sakitnya sampai air matapun tidak sanggup terjatuh. Aku hanya bisa pasrah melihatnya bermesraan didepanku. Aku benci saat – saat seperti itu. Tapi entah mengapa rasa cintaku ini tidak bisa dengan mudahnya hilang begitu saja. Seperti benalu yang menempel pada pohon-pohon besar. Rasa cinta ini sudah benar-benar mengakar dalam hati.
Aku menatap kosong buku yang sudah dari tadi ada dihadapanku ini. Tidak membuka halamannya sama sekali. Masih halaman yang sama saat aku duduk disini 30 menit yang lalu. Di perpustakaan kampus. Disinilah tempat yang nyaman bagiku untuk menumpahkan segala penatku selain di atap kampus.
Kenapa sekarang aku disini ? Bukan di atap kampus dimana aku bisa menghirup udara segar sebanyak-banyaknya ? Karena disana sedang terlihat sepasang kekasih yang sepertinya sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Aku tidak ingin mengganggu dan juga aku tidak ingin melihatnya. Melihat Junho Oppa dengan yeoja chingunya. Issh, rasanya aku ingin berteriak dihadapan mereka berdua kalau aku muak. Ingin menangis sekencang-kencangnya dihadapan mereka kalau hati ini sakit. Sakit rasanya dikoyak-koyak seperti ini.
Nafasku terasa berat. Terasa sesak didada. Kenapa air mata ini tidak bisa keluar ? Kenapa tidak bisa mengalir ? Apakah sudah kering karena saking seringnya hatiku disakiti ? Kupegang dada sebelah kiriku. Kuremas bajuku menahan rasa sakit yang sangat terasa.  Appo.. Neomu appo..
=======
Kulangkahkan kakiku dengan perasaan yang  berat. Segera menuju keruang musik dimana mata kuliahku selanjutnya akan dimulai. Beberapa meter sebelum aku memasuki ruang musik, seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh dan mendapati seseorang dengan eye’s smile nya yang sangat menawan tersenyum padaku.  “ Jinki-ssi ? ”
“ Annyeong Rin Young-ssi. ”
“ Annyeong. Sedang apa kau disini, Jinki-ssi ? ”
“Aku ? Bukankah hari ini kita ada kelas musik bersama. Kau lupa ? “ aku menepuk Jidatku. “ Oh iya. Mianhae.”
“ Gwenchana. Kajja kita masuk. ” Dan kulihat Jinki menggenggam tanganku dan membawaku ke ruang kelas.
Lee Jinki. Dia adalah tetangga sekaligus teman satu kuliahku. Perlakuannya sangat baik terhadapku. Walaupun terkadang aku bersikap dingin kepadanya, ia selalu memberikan senyuman terbaiknya kepadaku. Entah mengapa aku merasa nyaman didekatnya. Bersama dengannya membuatku sedikit melupakan rasa lelah ku karena memikirkan Junho Oppa.
=======
JINKI POV
Sedari tadi aku memperhatikan tingkah lakunya. Kulihat ia berjalan dengan sangat lemas. Seperti ada beban berat yang dipikulnya. Sudah beberapa minggu ini ia tidak terlihat seperti Rin Young yang biasa. Rin Young yang ceria dan selalu tertawa lepas. Sekarang ini ia menjadi Rin Young yang tidak bersemangat, selalu tersenyum dengan paksa dan terlihat menyedihkan.
Aku ingin sekali bertanya kepadanya kenapa dia seperti ini. Aku ingin ia membagi semua bebannya kepadaku. Namun aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa baginya. Aku hanya seorang tetangganya yang secara kebetulan satu kampus dengannya. Benar. Hanya seperti itu dan tidak lebih.
Aku memberanikan diri untuk bertemu dengannya. Kutepuk bahunya pelan dan seperti biasa, kuberikan senyumanku yang terbaik untuknya. Kulihat ia menoleh dan berkata, “ Jinki-ssi ? ”
“ Annyeong, Rin Young-ssi. ” Sapaku padanya.
“ Annyeong. Sedang apa kau disini, Jinki-ssi ? ” Dia bertanya kepadaku. Tidak ingatkah ia kalau aku juga mengambil kelas musik ?
“ Aku ? Bukankah hari ini kita ada kelas musik bersama. Kau lupa ? “ Aku mengingatkan kepadanya. Lalu  aku lihat ia menepuk Jidatnya. “ Oh iya. Mianhae.” Tuh kan dia lupa. Astaga, apakah aku ini orang yang cepat diingat dan juga cepat dilupakan ?
“ Gwenchana. Kajja kita masuk. ” Aku tersenyum simpul menanggapinya. Lalu kuraih pergelangan tangannya dan mengajaknya masuk. Kulihat ia tidak menolak dan membiarkanku menariknya kedalam ruangan musik. Didalam sana sudah terdapat beberapa anak yang duduk menempati kursi yang tersedia. Aku mengajaknya duduk dibangku paling belakang. Dan disana hanya tersisa 2 kursi. Aku segera menariknya kesana dan mendudukannya di salah satu kursi. Aku pun juga mengambil tempat disampingnya.
Mrs. Kim masuk tepat saat bel masuk berbunyi. Aku memperhatikan beliau menjelaskan berbagai instrumen musik yang saat ini sedang ia tunjukan. Piano, biola, gitar, harpa dan masih banyak lagi. Tapi dari berbagai macam alat musik itu, hanya satu yang aku kuasai. Piano. Tidak banyak yang tahu kalau aku ahli dalam memainkannya. Jujur saja, aku hanya ingin menampilkan kemahiranku bermain piano  kepada yeoja chinguku kelak. Dan aku berharap yeoja yang  ada disampingku ini lah yang akan melihatnya.
============
AUTHOR POV
Rin Young tengah menunggu bus yang akan membawanya pulang kerumah. Halte kala itu terlihat sangat ramai mengingat jam segini adalah waktunya orang-orang kantor pulang kerumah. Beberapa menit kemudian bus pun datang. Rin Young berdiri dari duduknya dan hendak naik. Namun langkahnya terhenti mendengar seseorang memanggilnya. Saat menoleh, didapati Junho tengah melambai kearahnya.
Rin Young melihat sekilas kearahnya , memberikan senyum singkatnya lalu segera naik kedalam bus. Lalu ia menuju bangku paling belakang disamping jendela. Ia menghempaskan dirinya dibangku itu lalu menyandarkan kepalanya dijendela. Melihat jalanan yang banyak dilalui oleh banyak orang. Ia sudah lelah. Lelah menghadapi hari-hari yang selalu saja seperti ini. Ia ingin segera sampai dirumahnya lalu menghempaskan tubuhnya dikasur empuk yang sudah menantinya dikamar.
Bis tengah berhenti dihalte selanjutnya. Rin Young tidak memikirkan keadaan sekelilingnya. Ia hanya sibuk dengan pikirannya tanpa menyadari seseorang sudah memerhatikannya dari tadi.
Menyadari bus sudah hampir tiba di tempat yang ia tuju, Rin Young segera berdiri dan berjalan mendekat kearah pintu. Namun bis tiba-tiba rem mendadak. Membuat Rin Young tidak bisa menjaga keseimbangannya. Sebelum Rin Young tersungkur, seseorang sudah memegang erat pinggang Rin Young.
Rin Young menyadari ada sesuatu yang memegang pinggangnya dan menoleh. Ia mendapati kalau Jinki tengah memegangnya agar tidak terjatuh. Lalu dengan perlahan Jinki membetulkan posisinya. “ Gomawo, Jinki-ssi. ” Ucap Rin Young. Ia menundukkan kepalanya sekilas tanda berterima kasih.
“ Kau tidak usah sungkan. Lain kali berhati-hatilah. ” Jinki mengusap pelan rambut Rin Young. Membuat Rin Young menatap Jinki. Semburat merah muncul dari pipi mulus Rin Young. Sesaat kemudian Rin Young menundukkan wajahnya. Malu.
“ Ayo kita turun. Kita sudah sampai. ” Jinki menggenggam erat tangan Rin Young dan menariknya. Mereka berdua turun dari bis dan berjalan menuju rumah mereka. Rumah Jinki hanya berbeda 2 rumah dari rumah Rin Young. Sangat berdekatan.
Mereka berjalan dalam diam. Tidak ada satupun yang berani memulai pembicaraan.  Masih dengan Jinki yang memegang erat tangan Rin Young. Hanya tinggal beberapa meter lagi sampai di depan rumahnya, Rin Young melepas genggaman Jinki perlahan dan tersenyum.
“ Gomawo sudah mengantarku sampai sini. Dan juga gomawo sudah menolongku tadi. Aku tidak tahu bagaimana keadaanku tadi kalau tidak ada kau. ”
“ Sudah aku bilang kau tidak usah sungkan. Kita ini kan teman. Teman akan saling membantu, benarkan ? ” Ucap Jinki tersenyum.
“ Kau benar. Kalau begitu Annyeong, Jinki-ssi. Sampai jumpa besok. ” Rin Young membuka pagar rumahnya dan melenggang masuk. Namun langkahnya terhenti melihat sebuah mobil terparkir didepan garasi mobil. Mobil yang sudah sangat ia kenal. ‘ Untuk apa dia kemari ? ’
Rin Young melenggang masuk kerumah. “ Aku sudah pulang. “ Mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang sudah tersedia. Berjalan pelan agar ia tidak harus bertemu dengan orang itu. “ Rin Young-ah..” Panggil yeoja paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah eommanya dari ruang tamu. ‘ Aishh, gagal sudah. ’
“ Ne eomma. ” Rin Young berjalan perlahan keruang tamu. Dan ia melihat eommanya dan orang yang sedang tidak ingin ia temui duduk disofa sedang minum teh bersama.
“ Rin Young-ah, Junho katanya ingin bertemu denganmu. Eomma tinggal dulu ya biar kalian bisa mengobrol. ” Eomma Rin Young berdiri dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Rin Young mendesah keras lalu duduk berhadapan dengan Junho.
“ Tumben oppa kemari. Ada apa ? ” Tanya Rin Young datar.
“ Kenapa kau menghindar dariku ? ” Junho bertanya langsung to the point.
“ Menghindar ? Aku ? ”
“ Ne. Kenapa tadi kau begitu saja pergi padahal kau tahu kalau aku memanggilmu ? ”
“ Oh. Itu. Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin cepat-cepat pulang dan beristirahat. Tidak ada maksud lainnya. ”
 “ Benarkah ? Apakah aku punya salah padamu ? Aku merasa sekarang kau menghindar dariku. ”
‘ Banyak oppa. Sungguh banyak masalah yang kau timbulkan. ’ Batin Rin Young. “ Tidak. Kau tidak punya salah. Aku hanya tidak ingin diganggu saja. ” Ucap Rin Young seadanya.Kepalanya tertunduk. Matanya tidak berani menatap Junho. Ia takut dengan melihat Junho saja, sudah bisa membuat air matanya turun.
“ Tatap aku, Rin Young-ah. Sejak kapan kau berbicara padaku dengan wajah tertunduk seperti itu ? ” Junho berdiri dan berjalan menghampiri Rin Young yang duduk dihadapannya. Perlahan, ia duduk disebelah Rin Young dan menyentuh dagu Rin Young. Membuat Rin Young akhirnya menatap Junho.
“ Apakah aku menyakitimu ? ” Tanya Junho pelan. Namun suaranya dapat didengar oleh Rin Young.
Rin Young terpaku sejenak lalu menggelengkan kepalanya. “ Aniyo. Kau tidak menyakitiku oppa. ”
“ Kau tidak suka aku bersama dengan Min ? ”
“ Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu kan ? Oppa pasti sudah tahu jawabannya.” Ucap Rin Young lirih.
“ Mianhae. ” Junho menarik Rin Young dalam dekapannya. Membuat Rin Young tenggelam didalam dada bidang Junho.
“ Oppa tidak perlu meminta maaf. Sudah aku katakan berkali-kali bukan ? ” Rin Young dengan perlahan melepas pelukan Junho. Menatap Junho dengan senyum sendunya.
“ Jangan pernah memberikan harapan palsu padaku oppa. Aku mohon dengan sangat kepadamu. ” Rin Young berdiri. “ Aku ingin istirahat. Oppa boleh pulang sekarang. Jaljayo. ” Rin Young membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh.
Junho menatap miris punggung Rin Young yang semakin jauh.
****
“ Kau mau kemana malam-malam begini, Rin Young-ah ? Diluar sangat dingin. ” Tanya eomma Rin Young yang heran melihat anaknya tengah memakai sepatu.
“ Aku ingin ke mini market sebentar eomma. Ada yang ingin aku beli.  ” Jawab Rin Young.
“ Jangan lama-lama ya. Dan hati-hati. ”
“ Ne eomma. Kalau begitu aku pergi dulu. ” Rin Young membuka pintu rumahnya. Terasa terpaan angin yang sangat dingin menerpa wajahnya. Ia mengeratkan syalnya dan mulai melangkah. Sebenarnya tidak ada yang ingin ia beli. Ia hanya ingin mencari angin segar. Melupakan semua penat yang ia rasa.
Rin Young ingin sekali bercerita kepada eommanya, tapi itu tidak mungkin. Ia tidak mau merusak hubungan Junho dengan eommanya itu. Lalu kepada siapa ia bercerita ? Jinki kah ? walaupun mereka berdua dekat, tapi Rin Young masih belum ada keberanian untuk bercerita kepadanya.
Langkah kakinya membawanya kesebuah taman bermain kecil. Dengan 2 ayunan yang ada disana. Rin Young segera mengambil tempat disalah satu ayunan tersebut. Mengayun-ayunkan dengan perlahan. Menikmati hembusan angin yang dingin.
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Rin Young menghentikan aktivitasnya. Mendengar seksama suara langkah kaki itu. Jantungnya berdegup kencang, ‘ Orang jahatkah ? kalau bukan, siapa ? ’ batin Rin Young. Langkah kaki itu semakin dekat. Rin Young tidak berani untuk bergerak sedikitpun. Ia memejamkan matanya. Takut sesuatu terjadi padanya.
Beberapa menit berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Malah ia merasa sekarang ada seseorang yang mendorong pelan ayunan yang ia duduki. Rin Young membuka matanya dan mendongak. Terlihat wajah seseorang yang sangat ia kenal. Tersenyum menampilkan eyes smile nya. “ Jinki-ssi ? ” Rin Young menghela nafas lega.
Jinki kemudian berjalan. Mengambil tempat diayunan yang satunya. “ Kenapa kau menghela nafas seperti itu ? Kau sepertinya lega karena yang datang bukan penjahat ya ? ”
“ Ya. Benar. Kau itu mengagetkanku saja. ” Rin Young pura-pura marah.
“ Ahahaha. Mianhae, Rin Young-ssi. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin mengampirimu saja yang sedang menyendiri disini. Apakah aku menganggu ? ”
“ Ani. Aku malah sangat senang ada teman disini. ” Ucap Rin Young.
“ Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan disini malam-malam begini ? ”
“ Hanya mencari angin segar. ” Jawab Rin Young seadanya dan memang itulah kenyataannya.
“ Mencari angin segar ? di jam segini ? tidakkah itu salah ? seharusnya kau mencari angin segar pagi-pagi, Rin Young-ssi. ”
“ Kau benar Jinki-ssi. Sebenarnya aku hanya ingin sedikit melupakan masalahku sejenak. ”
Jinki terdiam. Ia ingin sekali bertanya masalah apa yang sedang dihadapi Rin Young sampai mengubah sifatnya seperti itu.
“ Masalah yang membuat kau jadi seperti ini ? Yang membuat aku merasa bahwa kau bukanlah Kim Rin Young yang kukenal ? ” Jinki tiba-tiba berkata seperti itu. Membuat Rin Young menatapnya.
“ Ah, mianhae Rin Young-ssi. Aku tidak bermaksud seperti itu. ” Jinki terlihat salah tingkah. Ia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan.
“ Gwenchana. Kau benar Jinki-ssi. Aku juga merasa kalau ini bukanlah diriku. ” Rin Young membenarkan ucapan Jinki. Memang benar masalah ini membuatnya merasa kalau itu bukanlah dirinya. Hanya karena ‘Cinta’ ia menjadi seperti ini.
“ Mian kalau aku terkesan ikut campur Rin Young-ssi. Tapi, maukah kau menceritakannya padaku ? Siapa tahu aku bisa sedikit mengurangi bebanmu ?  ” Kata Jinki. Ada nada hati-hati dalam suaranya. Takut-takut ucapannya menyakiti Rin Young.
“ Yah, mungkin aku memang harus bercerita pada seseorang. Aku tidak mungkin menyimpannya sendiri dalam hati bukan ? ” Rin Young tersenyum sendu. Dan ia memulai ceritanya dari awal hingga akhir.
Jinki mendengarkannya dengan baik. Sesekali ia mengangguk dan bergumam. Awalnya Rin Young bercerita dengan nada datar. Tanpa emosi. Namun perlahan-lahan, suaranya terdengar bergetar. Jinki tahu sebentar lagi Rin Young akan menumpahkan penatnya selama ini. Dengan mengeluarkan air mata yang mungkin sudah lama tidak ia keluarkan. Dan benar dugaannya. Rin Young menangis. Terdengar isakan yang cukup keras dan terdengar pilu.
“ Aku... Hiks..Hiks.. Sudah tidak tahan. Hiks..Hiks.. Dengan perlakuannya yang sepeti ini. Hiks. Aku benar-benar.. Sudah tidak tahan. ” Ucap Rin Young disela-sela tangisannya. Jinki yang mendengarnya merasakan rasa sakit yang amat perih. Tepat di ulu hatinya. Terasa sangat perih mendengar Rin Young menangis pilu seperti itu.
Jinki berdiri dari tempatnya dan menghapiri Rin Young. Ia berlutut didepan Rin Young dan kemudian ia menarik Rin Young dalam dekapannya. “ Menangislah.. ”
Mendengar suara Jinki ditelinganya semakin membuatnya sedih. Rin Young membiarkan Jinki memeluknya semakin erat. Dan ia membalas pelukan Jinki.  Menangis dalam dekapan hangatnya.
 Tangisan yang sudah ia tahan selama ini akhirnya keluar setelah ia bercerita kepada Jinki. Dengan mudahnya ia menumpahkan semua kesedihannya kepada Jinki. “ Tumpahkan semua yang ada dibenakmu, Rin Young-ah. Tumpahkan semuanya agar kau tenang. ” Ucap Jinki lembut. Membuat Rin Young semakin terisak dan tangisannya semakin kencang.
“ Kau harus membagi beban mu kepadaku, Rin Young-ah. Jangan kau pendam sendirian. Biarkan aku merasakan sakitmu. Biarkan aku merasakan sedihmu. ” Suara Jinki bergetar. Air matanya ikut mengalir. Ikut merasakan sedih yang dirasakan oleh yeoja yang ada didekapannya ini.
Entah sudah berapa lama mereka menangis bersama. Sampai akhirnya suara tangisan itu mereda. Masih dalam dekapan Jinki. Masih dalam sentuhan lembut Jinki yang mengelus-elus rambutnya. Rin Young sudah sedikit merasa tenang. Perlahan ia melepas pelukan Jinki. Dan menatap manik mata Jinki.
“ Gomawo, Jinki. Gomawo kau sudah mau mendengarkan semua keluh kesahku. ”
Jinki tersenyum, “ Sudah aku bilang, kita ini teman bukan ? Kau jangan sungkan padaku. Dan kembalilah menjadi Kim Rin Young yang dulu. Yang ceria dan selalu tertawa lepas. Ara ? ”
Rin Young membalas senyuman Jinki. Senyuman tulus yang sudah jarang sekali ia perlihatkan kepada orang lain. Lalu ia menggangguk. “ Ara. Aku akan kembali menjadi Rin Young yang dulu. ”
 “ Bagus kalau begitu. “ Jinki berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Rin Young. Rin Young menggapai tangan itu dan membiarkan Jinki menariknya. Kini mereka sama-sama berdiri dan berdekatan.
“ Rin Young-ah ? ”
“ Hmmm ? ” Rin Young menatap Jinki. 
“ Bolehkah aku ? Bolehkah aku masuk kedalam kehidupanmu agar kau bisa membagi bebanmu itu padaku ? ”
****
Rin Young diam terpaku. Sudah lebih dari 30 menit ia hanya seperti ini. Terdiam ditaman kampus yang rindang. Tanpa mengubah gerakannya sedikit pun. Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Walaupun Jinki tidak memaksa ia untuk menjawabnya, tapi ia merasa tidak enak dengan Jinki.
Jinki orang yang sangat baik. Sangat baik. Rin Young  juga nyaman berada didekatnya. Ia merasa selalu aman berada didekat Jinki. Tapi ia masih belum mengetahui perasaan seperti apa yang ada dihatinya. Apakah masih mencintai Junho ? Atau tidak ?
“ Awww..” Rin Young berjengit. Pasalnya ada sesuatu yang dingin menyentuh pipi Rin Young. “ Jinki-ya... Bisakah kau tidak... “ perkataan Rin Young terhenti melihat seseorang yang ternyata bukanlah Jinki. “ Oppa ? ” Rin Young menjadi tidak enak pada Junho. Mengingat ia salah menyebutkan nama Junho.
“ Siapa itu Jinki ? ” Tanya Junho yang langsung mengambil tempat disampingnya.
“ Ne ? ” Rin Youg pura-pura tidak mengerti.
“ Jinki.. siapa dia ? kenapa kau mengira aku itu dia ? ”
“ Oh, dia temanku. Dan juga tetanggaku. ”
“ Tetangga ? Bukan namja chingumu ? ” Tanya Junho. Ada sedikit nada sinis dalam suaranya, namun Rin Young sepertinya tidak menyadarinya.
“ A...ani. Dia bukan namja chinguku. ” Jawab Rin Young gugup.
“ Hmm, baguslah. Lalu, untuk apa kau memanggilku kemari ? ”
“ Aaa, itu.. Begini oppa.. Hmmm..” Rin Young terlihat bingung.
“ Ne ?  ”
“ Ada seseorang yang ingin.. Ingin mengenalku lebih jauh lagi.”
“  Apa maksudmu ? ” Tanya Junho tidak mengerti.
“Yah, maksudku dia ingin mengenalku luar dalam..” Ucap Rin Young sedanya.
“ Tidak boleh ! ” Junho mengatakan itu dengan tegas.
“ Waeyo ? Dia kan hanya ingin mengenalku lebih jauh oppa. Apa salahnya ? ”
Junho tidak mengindahkan pertanyaan Rin Young, “ Siapa yang mengatakan itu ? Seseorang yang bernama Jinki kah ? “
“ Ne. Benar. Jinki lah orangnya. “
” Tidakkah kau mengerti ? Bila namja sudah mengatakan itu padamu, berarti dia ingin menjadi namja chingumu. Kau tahu ?! ” Kata Junho.  Ada sedikit nada emosi dalam suaranya.
“ Aku tahu ! Aku tahu ! Tapi kenapa oppa melarangku ? Atas dasar oppa melarangku ? Toh aku tidak marah oppa jadian dengan Min. Bahkan Oppa tidak mengatakannya kepadaku kalau kau sudah jadian dengannya begitu lama. Oppa tahu kan kalau aku..menyukai oppa ?! “ Rin Young sedikit kesal dengan sikap Oppanya itu. Junho terdiam. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
“ Itu.. Itu berbeda. ”
“ Berbeda apanya oppa ? Itu sama saja. ” Nada suara Rin Young mulai meninggi. Nafasnya tersengal-sengal menahan emosi.
“ Rin Young-ah..” Seseorang memanggil Rin Young. Junho dan Rin Young menoleh bersamaan dan terlihat seorang namja tengah melambaikan tangannya. Rin Young balas melambai. Ia menghela nafas sejenak. “ Mian Oppa. Temanku sudah menjemput. ” Rin Young berdiri, hendak meninggalkan Junho. Namun Junho menggenggam tangan Rin Young. Erat. “ Jangan pergi. ” Ucap Junho lirih.
“ Oppa, bisakah kau melepas genggamanmu ? Tanganku sakit. ” Rin Young mencoba melepaskan tangan Junho namun nihil.
“ Apakah kau sudah tidak menyukaiku lagi ? ” Junho mengabaikan ucapan Rin Young dan menatap Rin Young, dalam. Rin Young hanya diam terpaku. Tangannya mulai perlahan terlepas dari genggaman Junho dan Rin Young meninggalkan Junho tanpa menjawab apapun. Junho hanya bisaterpaku melihat Rin Young pergi.
Rin Young berjalan perlahan menghampiri Jinki yang sudah menunggunya.
“ Jinki-ya, sudah menunggu lama ? ” Tanya Rin Young.
“ Ani. Harusnya aku yang bertanya padamu. Kau sudah menungguku lama ? ”
“ Hmm, tidak lama. Hanya 30 menit. ”
“ MWO ? 30 menit ? Aigoo, mianhae Rin Young-ah. Jeongmal mianhae karena menungguku terlalu lama. ” Jinki membungkukkan kepalanya berkali-kali.
“ Gwenchana. Tidak masalah bagiku. ” Rin Young tersenyum simpul menanggapinya.
“ Sekali lagi mianhae. ”
“ Sudahlah. Ayo kita cepat. Bisa-bisa nanti kita bisa ketinggalan bis nya. ” Ucap Rin Young.
 Jinki menggenggam erat tangan Rin Young. “ Kalau begitu, kajja. ”
****
RIN YOUNG POV
Jinki mengajakku ke sungai han. Dimana disana akan ditampilkan pertunjukkan kembang api. Kalian tahu ? Kembang api adalah salah satu dari 5 hal yang aku sukai. Pertama, aku menyukai Kimbab. Nasi gulung yang diisi dengan berbagai macam sayur dan daging bisa membuatku hmmmm... Terbang*lebay mode on*. Kedua, cokelat. Aku sudah hampir mencicipi semua cokelat di Korea ini. Begitu lezat dan bisa membuatku bahagia. Ketiga, Novel. Asal kalian tahu, jika ada orang yang menanyakan hadiah apa yang aku inginkan saat aku ulang tahun, aku akan menjawab “ Novel.” Aku suka membaca dari umur 8 tahun. Bukan baca buku pelajaran ya, tapi buku komik dan novel tentunya. Baca buku pelajaran hanya akan membuat otakku mumet. Laku yang keempat, aku suka tidur. Begini – begini aku ratu tidur. Bila tidak ada bunyi alarm atau orang yang membangunkanku, aku bisa bangun siang. Paling siang bangun jam 12. Benar-benar ratu tidur. Dan yang kelima, ya kembang api. Karena lewat kembang api, aku bisa merasa tenang.
Waktu tepat memasuki jam 10 malam. Aku dan Jinki duduk ditepi sungai sambil menunggu kembang api yang bermunculan. Tidak ada yang bersuara. Kami hanya saling terdiam dan terpaku dengan pikiran masing-masing.
Pikiranku masih melesat saat kejadian tadi sore. Junho oppa bertanya padaku apakah aku sudah tidak menyukainya ? Jawabannya aku tidak tahu. Jujur, dulu saat dia bertanya apakah aku masih menyukainya, aku akan menjawab dengan pasti kalau aku masih menyukainya. Tapi sekarang, ada rasa ragu yang menyelimuti diriku. Apakah posisi Junho Oppa dihatiku sudah tergantikan dengan orang yang duduk disampingku ini ?
Aku merogoh tasku sebentar. Mencari benda kecil yang sudah sering aku gunakan. Ponsel. Ketika aku menemukannya, aku segera mengetik sms.
To : Nae Oppa
Oppa, mianhae. Aku mungkin akan menjawab pertanyaan Oppa tadi. Mian bila tidak mengucapkannya secara langsung. Tapi inilah jawabanku..
Mian Oppa. Perasaanku padamu sudah memudar. Entah mulai sejak kapan seperti itu. Mungkin hal ini terjadi karena aku sudah tidak kuat melihat kau selalu bermesraan dengan Min didepanku padahal kau tahu aku menyukaimu. Aku..Mungkin sudah jatuh hati pada Jinki. Sekali lagi, Jeongmal Mianhae Oppa. Aku harap kita masih akan terus bersahabat seperti dulu. Tanpa ada rasa suka diantara kita. Dan aku ucapkan, Neomu Neomu Gomawoyo Oppa. ^^


Dan aku tekan tombol send. Menunggu rincian pesan terkirim. Aku menghela nafas. Yah, mungkin inilah saatnya aku memberikan jawaban atas pernyataan Jinki dulu.
“ Jinki-ya...” Aku memulai obrolan. Aku merasa Jinki menoleh kearahku. Namun aku masih tetap memandang kedepan.
“ Ne ? Ada apa Rin Young-ah ? ” Tanyanya.
“ Apakah..Apakah pernyataanmu yang kemarin masih berlaku ? ” Aku bertanya ragu-ragu padanya. Kutolehkan kepalaku, kuberanikan diri untuk menatapnya, dan apa yang aku lihat ? Dia tersenyum. Neomu Kyeopta.
“ Masih sangat berlaku, Kim Rin Young. Dan... apa jawabanmu ? ” Tanyanya serius.
“ Aku...Aku..Aku mengizinkanmu. Mengizinkanmu untuk masuk kedalam hidupku, Jinki-ya..” Diriku sangat malu mengatakannya. Kutundukkan wajahku tanpa ingin melihat reaksi Jinki. Setelah itu yang kurasakan adalah lengan Jinki yang kuat merengkuhku perlahan kedalam pelukannya.
“ Gomawo Rin Young-ah. Gomawo karena sudah mengizinkanku masuk kedalam kehidupanmu. Aku berjanji, akan selalu melindungimu, dan menjagamu sampai akhir hidupku. Jeongmal Saranghae, Rin Young-ah. ” Ucap Jinki lembut. Terdengar suara kembang api yang mengalun begitu indah. Seakan-akan mendukung moment yang sangat berharga untukku.
 Aku tersenyum. Tersenyum karena akhirnya mulai perlahan-lahan aku akan membuat Jinki menjadi satu-satunya namja yang dapat mengisi relung hatiku yang kosong dan menyembuhkan penyakit hatiku akibat luka yang sudah lama tertoreh.
Dan aku berharap, ia akan menjadi namja yang tidak akan pernah membuatku lagi merasakan apa itu yang namanya ENERVATED LOVE.
FIN

Yapppp, ini dia.. Jangan lupa Komentar nya yahh ^^
Awas kalo sampe nggak.. :D
READ MORE - FF - Enervated Love//ONESHOOT//SHINee-Onew

Mengenai Saya

My photo
Saya buat BLOG ini untuk berbagi dengan teman-teman penjelajah dunia maya.... WELCOME TO MY BLOG :)
Free counters!