Saturday, September 10, 2011

FF- Time Less//BOYFRIEND

Annyeong haseyo..
Author balik lagi dengan FF nya yang super super gaje.
Kali ini main cast nya BoyFriend.. Author mau coba-coba bagus atau gak..
Oke, langsung aja...
TITLE                      : Time Less neon naegosia
MAIN CAST         :  JO KWANGMIN
                                   PARK HYUNSO a.k.a Author (numpang eksis)
                                   LEE JUNGMIN
                                   JO YOUNGMIN
                                   CHOI MINHYU
GENRE                  : Silahkan tentukan sendiri
AUTHOR              : MutiaMia Andara

Waktu yang berlalu cukup lama..
Kembali mengingatkanku akan kenangan itu..
Saat kita bersama..
Saat kita bahagia..

Namun..

Yang bisa kuingat hingga sekarang hanyalah..
Satu-satunya kata-katamu..
Satu-satunya yang akan selalu kuingat dimemoriku ini..

Mungkin…

Sedikit waktu yang diberikan..
Akan dipergunakan dengan baik..
Agar aku bisa memberitahumu..
Memberitahumu tentang semua..

Semuanya yang ada dihatiku.
Jeongmal..
Bogoshippeyo..



=>=>=>=>=>=>=>=>



            Pesawat xxx. Hari minggu tanggal 2 Januari pukul 15.00

            “ Harap para penumpang memakai sabuk pengaman dan masker. Kita berada dalam keadaan genting. Dimohon para penumpang agar tenang. ” Ucap seorang pramugari dari pengeras suara.

            Seorang namja terus mendekap kedua tangannya, berdoa. “ Tuhan, tolong selamatkan aku. Aku harus bertemu dengan seseorang saat ini. Tolong tuhan. ” Ia mengikuti perintah pramugara tersebut sementara seseorang yang berada disampingnya hanya terdiam saja.

            “ Tuhan, tolong. Jangan kau ambil nyawaku sekarang. Tolong…” Namun sebelum namja itu menyelesaikan doanya, alarm tanda bahaya berbunyi. “ Astaga..”

****

            Café L’arche, Seoul. Minggu, 2 januari pukul 19.00

                “ Oppa sudah janji akan datang. Oppa sudah janji akan datang. Aku akan terus menunggunya.  ” Ucap seorang yeoja. Ia tengah menunggu seseorang di sebuah café yang berada ditengah-tengah kota Seoul. Ia sudah berada dicafe itu selama 3 jam lamanya.

            Hujan telah mengguyur hampir semua ditempat yang ada dikorea. Tiba-tiba terdengar lagu You & I nya Boyfriend dari dalam tas Yeoja tersebut. Ia segera mengambil Hp nya dan berbicara, “ Annyeong. Hyunso disini. Ada apa omma ? ” Yeoja itu terdiam. “ Andwee. Bohong. Omma pasti bohong. Gak mungkin. OPPA ! ” Yeoja yang bernama Hyunso itu segera keluar dari café tersebut dan berlari. Ia tidak peduli dengan hujan yang sangat lebat saat itu.

“ OPPAAA…” Hyunso menjerit dan ia menangis. Orang yang melihat Hyunso terheran-heran. “ Jangan tinggalkan aku oppa.. Hiks,hiks,hiks..”


=>=>=>=>=>=>=>
          
            “ Hyunso, kau tidak sekolah ? Sekarang sudah jam berapa ini ? “ Teriak yeoja paruh baya dari lantai bawah.
            “ Ne Omma. Sebentar lagi aku siap. Chakkaman.” Teriak yeoja yang bernama Hyunso dari kamarnya. Ia sedang membenarkan letak dasinya. “ Sudah siap. ” Hyunso mengambil tasnya dan sebelum berjalan ke pintu, ia melihat sekilas foto yang terletak disamping tempat tidurnya itu. Terpampang seorang namja dengan mata bulan sabitnya itu tersenyum bahagia.
            Hyunso tersenyum sendu dan terlihat sedih . “ Aku pergi dulu oppa.”
****
            Hari ini adalah tahun ajaran baru. Hyunso dan temannya, Minhyu sedang memandangi papan pengumuman. “ Kyaaa, kita sekelas lagi Hyunso. Aku senang.” Minhyu memeluk Hyunso yang masih saja memandangi papan pengumuman.
            “ Jeongmal ? Yah, bosan aku sekelas lagi denganmu selama 3 tahun. ” Canda Hyunso.
            “ Yaa, kenapa kau begitu ? Kita kan sudah sahabatan lama, jangan seperti itu dong.” Minhyu memajukan bibirnya.
            “ Bercanda. Aku Cuma bercanda. Kau ini masih saja gampang tersinggung. Aku senang kok kita sekelas lagi.”

            “ Nah, gitu dong. Ngomong-ngomong soal sekelas, kita sekelas lagi dengan musuhmu yang satu itu kan? ”
            “ Musuhku ? Siapa yang kau maksud ? ”
            “ Itu, Jo Youngmin. Salah satu anak yang paling ‘Nyentrik’ kalo dibilang. Dengan rambutnya yang pirang itu. Dia banyak mengundang perhatian.”
            “ Oooh. Maksudmu si bocah tengik itu ?! Aku bisa gila 1 tahun kedepan sekelas lagi dengan dia. ”
            “ Hmmm, panjang umur sekali dia. Baru diomongin udah nongol. ” Kata Minhyu.
            Mata mereka berdua mengikuti arah jalan Youngmin.

            “ Loh, kok ada yang aneh. Perasaan rambut Youngmin itu pirang. Kenapa sekarang berubah jadi cokelat dan terlihat lebih rapi ? ” Tanya Minhyu heran.
            “ Entahlah. Mungkin dia sudah sadar kalau dia terlalu mencolok.” Kata Hyunso. Kemudian mata Youngmin dan Hyunso saling tatap. Hyunso melihat ada sesuatu yang berbeda dari mata Youngmin. Mata yang menatap tajam dan mengingatkannya pada seseorang. Kemudian Youngmin mengalihkan pandanganya  dan menjauh dari tatapan Hyunso.
            ‘ Memang ada sesuatu yang berbeda kali ini dari Youngmin.’ Batin Hyunso.

****  
        
            “ Haahh. Bosan sekali aku sekelas dengan si cerewet yang satu ini. ” Youngmin sengaja memperkeras suaranya didepan Hyunso. Kala itu, Hyunso dibantu oleh Minhyu sedang mencari tempat duduk yang pas. Minhyu sudah duduk dengan orang lain.
            “ YAA, memangnya aku saja yang bosan ? Aku sudah muak malah melihat mukamu selama 3 tahun. Kau tau, 3 TAHUN ! ” Teriak Hyunso. Ia hampir saja memukul Youngmin ketika menyadari bahwa rambut Youngmin masih sama seperti yang dulu.
            “ Tunggu dulu. Kau tidak ganti warna rambut ? ” Tanya Hyunso.
            “ Untuk apa aku ganti warna rambut ? Aku lebih suka warna rambutku yang seperti ini.” Jawab Youngmin.
            “ Tapi tadi aku melihat warna rambutmu itu cokelat. Bukan pirang.”
            “ Oh. Mungkin yang kau lihat itu…”
            Sebelum Youngmin menyelesaikan ucapannya, seorang namja berteriak,“ Ada guru. ” Semua murid segera duduk dibangkunya masing-masing.
            “ Oke, semuanya duduk ditempat masing-masing. ” Ucap Kim songsaenim. “ Sekarang buka buku pelajarannya. Namun sebelum kita belajar, ada murid baru yang akan saya kenalkan. Silahkan masuk. ”

            Semua mata tertuju pada pintu yang menggeser terbuka. Hyunso melihat Youngmin tersenyum senang dan berkata lirih, “ Kalian semua akan kaget melihatnya. Hahaha.” Melihat orang yang masuk, semuanya pada ber-OH ria. Ada yang berkata, “ Astaga.” Lalu, “ Dia mirip sekali dengan Youngmin.” Dan lain-lain.
            “ Oke. Silahkan kamu memperkenalkan diri.” Kata Kim Songsaenim.
            Namja yang mirip dengan Youngmin membungkukkan badannya. “ Annyeong. Jo Kwangmin imnida. Seperti yang kalian lihat, aku adalah kembaran dari Jo Youngmin. Pindahan dari Pennysilvania, Amerika. Bangapseumnida.” Namja bernama Kwangmin itu kembali menundukkan kepalanya.
            ‘ Mwo ? Pennysilvania ? Bukannya itu tempat…’ pikir Hyunso.
           “ Hei, Hyunso. Pennysilvania bukannya tempat yang sama seperti oppamu  ? ” Tanya Minhyu yang duduk didepannya.
         “ Ya. Itu tempat oppa dulu. Ya, sebelum dia…” Hyunso terdiam. Ia tidak kuat untuk melanjutkan kata-katanya itu.
        “ Astaga. Mianhae. Mian karena aku mengingatkan mu lagi.” Minhyu meminta maaf.
         Hyunso menggelengkan kepalanya, “ Tidak apa-apa. Kau tidak harus minta maaf. Itu semua hanya…” Ucapannya kembali terhenti saat melihat seseorang duduk disampingnya. ‘ Anak baru itu..’ batin Hyunso.
         Hyunso dan Kwangmin saling menatap. Tatapannya masih sama seperti saat Hyunso bertemu dengannya sebelum masuk sekolah. Tatapan yang sangat mirip dengan Jungmin. Tatapan yang tajam namun mengisyaratkan kelembutan. Walaupun bentuk matanya berbeda jauh dengan Jungmin.
       Merasa tidak enak karena menatap terlalu lama, Hyunso menyapa Kwangmin, “ Annyeong. Hyunso Imnida. Bangapta.” Tidak ada jawaban dari Kwangmin. Ia hanya tersenyum dan kemudian menatap songsaenim.
       
     ‘ Aneh.’ Batin Hyunso.
****

            Berhubung Hyunso adalah petugas perpustakaan, waktu istirahat digunakannya untuk pergi ke perpustakaan. Ketika itu, ia sedang mencatat buku-buku yang baru dikembalikan hari itu. “ Hyunso..” Panggil Mrs. Park selaku penjaga perpustakaan.
          
            “ Ne ? ” Jawab Hyunso.

            “ Tolong kau ambilkan buku-buku tentang lukisan Da vinci. Ada di lemari no. 13.”

            “ Oh. Baiklah.” Hyunso segera beranjak ke lemari 13.

            Tidak butuh waktu lama Hyunso untuk menemukan buku yang diminta. Tapi permasalahannya, tinggi Hyunso kurang mencukupi untuk mengambil buku yang ada di rak paling atas. Ia berjinjit dan berusaha mengambil buku itu tapi tetap saja tidak sampai. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang membantu mengambilkannya.

            “ Gomawo.” Ucap Hyunso. Ia terkejut saat tahu yang membantunya itu Kwangmin. Kwangmin hanya tersenyum lalu ia memberikan buku itu ke Hyunso dan pergi. ‘ Sudah kuduga dia memang aneh.’ Batin Hyunso.

****

            Kwangmin baru saja keluar dari perpustakaan. Lalu ia menuju ke toilet.

            “ YAA.. Sampai kapan kau mau mengusikku ? Aku sudah berlagak seperti orang aneh didepannya. ” Katanya sembari bercermin. Seseorang keluar dari salah satu bilik. Ternyata itu kembarannya sendiri. “ Kau berbicara dengan siapa tadi ? ” Tanya Youngmin.

            “ Ani. Tidak dengan siapa-siapa.”

            “ Oh. Aku ingin tanya padamu, kenapa kau tiba-tiba pulang dari Amerika ? ”

            “ Tidak ada alasan khusus hyung. Aku hanya ingin pulang saja. Bosan tinggal disana.”

            “ Hmm. Tapi kau tidak boleh dekat-dekat dengan Hyunso ya.”

            “ Waeyo ? ”
          
            “ Tidak apa-apa. Pokoknya jangan dekati dia.”

            “ Ne Hyungnim.” Kemudian Youngmin pergi meninggalkan Kwangmin ‘ Sendirian’.

            “ Bagaimana ini ? Keadaan jadi tambah runyam. Kalau Hyung sudah bilang begitu, aku jadi tidak berani. Aishhh. Semua itu gara-gara kau, tau tidak.” Ucap Kwangmin kepada bayangan seseorang yang ada disampingnya.

****

            Hujan mengguyur kota Seoul ditengah heningnya malam. Hyunso memandangi hujan yang mengguyur kota Seoul lewat jendela kamarnya. Entah mengapa setiap hujan turun, Hyunso selalu teringat namja dengan mata bulan sabit itu. Ingat semua hal yang ada di diri namja itu. Hyunso mendesah.

            Kemudian ia berbalik dan duduk ditepi ranjangnya. Mengambil figura yang ada disampingnya. Mengelus-elus foto tersebut. Setitik dua titik air jatuh dari matanya. Semakin lama semakin deras. Ia terisak. “ Oppa.. Bogoshippeo. Jeongmal bogoshippeo.”

            Lalu ia membaringkan tubuhnya diranjang tersebut dan tertidur sembari memeluk figura itu.

****

            “ Hyunso-aah, ada apa dengan matamu ? Kenapa bengkak seperti itu ? ” Tanya Minhyu. Saat itu, Hyunso baru saja tiba dikelas. “ Kau habis menangis ? ” Tanya Minhyu lagi saat Hyunso duduk dibangkunya. Hari itu, Teman sebangkunya belum datang.

            Hyunso menggeleng, “ Ani.”

            “ Kau jangan berbohong padaku. Aku sudah tahu sifat-sifatmu. Kau habis mengingatnya lagi kan ? ”

            Kalimat Minhyu membuat Hyunso terdiam. “ Apa yang aku kira benarkan ? Ya ampun Hyunso. Aku sudah mengatakannya kepadamu berkali-kali, kau boleh saja bersedih karena kepergiannya, tapi jangan sampai berlarut-larut. Yang ada malah ia tidak akan merasa tenang disana. ”

            Hyunso masih tetap terdiam. “ Aku mengerti rasanya menjadi kau. Tapi jangan terlalu sedih, ara ?” Minhyu memegang kedua pundak Hyunso.

            “ KAU TIDAK AKAN MENGERTI.” Hyunso tiba-tiba berteriak dan ia pergi meninggalkan Minhyu yang terkejut.

            Hyunso berlari sepanjang koridor sekolah dan terisak. Ia mengikuti kemana kakinya membawanya pergi.

            ‘BRUK’

            Hyunso menabrak seseorang. “ Mianhae.” Hyunso memandang orang yang di tabraknya. ‘Kwangmin ?’ Batin Hyunso. Kwangmin juga memandangnya.

            Hyunso mengalihkan pandangannya dan kemudian berlari lagi. ‘ Kenapa dia menangis ?’
Hyunso mengalihkan pandangannya dan kemudian berlari lagi. ‘ Kenapa dia menangis ?’ Batin Kwangmin.

****

            Kwangmin heran. Sejak pelajaran pertama sampai pelajaran terakhir, Hyunso tidak masuk kekelas. Bahkan temannya, Minhyu, sedari tadi terlihat cemas. Bel pulang sekolah sudah berbunyi namun ia juga belum menampakkan dirinya.

            “ Ya ampun. Hujan sedang deras-derasnya. Dimana Hyunso sekarang ? Kenapa dia belum datang juga ? ” Minhyu sedari tadi mondar-mandir dikelas. Semua murid sudah pulang kecuali ia dan Kwangmin. Kwangmin diminta Minhyu untuk menemaninya.

            “ Memangnya kemana dia ? ” Tanya Kwangmin.
 
            “ Aku tidak tau. Kau tidak melihatnya ? ”

            “ Aku tadi liat. Tapi aku tidak tau dia pergi kemana. Hmmm, tadi aku melihatnya menangis, kenapa memangnya dia ? ”

            “ Aku sudah mengatakan sesuatu yang membuatnya sedih. Padahal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengungkit-ungkit nya lagi.”

            “ Kalau boleh tau, apa yang sudah kau katakan ? ”

            “ Huuh, ini soal Oppa nya dulu. Namanya Jungmin Mereka berteman sejak kecil. Bisa dibilang dia adalah cinta pertamanya Hyunso. Tapi entah sudah berapa lama Hyunso menyukainya, ia tidak pernah mau mengatakannya pada Jungmin. Ia takut mengakuinya. Hingga suatu ketika, saat ia ingin mengungkapkan perasaannya, Jungmin meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dan Hyunso sangat menyesali hal itu.” Kata Minhyu panjang lebar. Kwangmin terdiam.

            “ Aduh, kenapa aku menceritakannya padamu ? Ini rahasia ya. Kau jangan katakan pada siapapun. Apalagi bercerita pada kembaranmu. ”

            “ Aku tau. Aku tidak akan menceritakannya.”

            “ Tapi dimana Hyunso sekarang ? Aduh, bisa gawat kalau dia gak kembali.”

            Kwangmin tiba-tiba berdiri. Dan pergi keluar kelas. “ YAA, mau kemana kau ? ” Teriak Minhyu. Kwangmin masih saja berlari. Ia tidak menghiraukan teriakan Minhyu.

        “ Aku tahu sekarang kenapa kau tidak bisa berhenti mengusikku. Kau belum pernah mengatakan perasaanmu pada Yeoja itu kan ? Tapi sekarang yang paling penting, bantu aku mencarinya. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. ” Kwangmin berkata kepada seseorang yang baru saja muncul. “ Ikut aku. Aku tau persis dimana dia. ”

          Kwangmin menuruti orang itu. Ia dibawa menuju atap sekolah. Dan benar dugaannya, orang yang ia cari sedang  terduduk disudut atap. Basah kuyup karena hujan yang masih saja turun. Ia memeluk kedua lututnya, menangis sesenggukkan.
 
           “ Hyunso..” ‘Orang’ yang bersama Kwangmin menatap nanar Hyunso. “ Jangan lakukan ini. ” Katanya  lagi. Kwangmin menoleh kearah ‘orang’ itu, lalu ia menghampiri Hyunso. Ia berlutut, melepaskan jaket yang ia pakai dan menutupi tubuh Hyunso yang terkena hujan. Hyunso mengangkat wajahnya. Matanya semakin terlihat bengkak.            “ Kwangmin..” Katanya lirih.

          “ Sudahlah. Ayo kita pulang. Minhyu sudah menunggumu. ” Kwangmin merangkul pundak  Hyunso dan memapahnya.

          Sesampainya mereka dikelas, Minhyu langsung memeluk Hyunso. “ Mianhae. Jeongmal mianhae Hyunso. Jangan membuatku cemas lagi ya. ”

           Hyunso membalas pelukannya, “ Gwenchana Minhyu. Aku tidak apa-apa. Aku yang salah. Perkataanmu itu… ” Sebelum Hyunso melanjutkan perkataannya itu, ia jatuh pingsan.

            Kwangmin segera mengangkat Hyunso. “ Astaga. Hyunso, ada apa denganmu ? Ya ampun , badannya panas sekali. ” Kata Minhyu.

             “ Tunjukkan aku dimana rumahnya.” Kata Kwangmin.

****

            Minhyu mengantarkan Kwangmin kerumah Hyunso. Untung saja hujan sudah reda. Kwangmin tidak kesusahan membopong Hyunso sampai kerumahnya. Ketika sampai dirumah Hyunso, Omma Hyunso terkejut melihat anak satu-satunya itu dibopong seseorang dalam keadaan pingsan.

            “ Astaga. Ada apa dengan anakku ? Langsung bawa saja dia kekamarnya. ” Omma Hyunso menunjukkan kamar Hyunso. Kwangmin meletakkan dengan perlahan Hyunso yang masih saja Pingsan.

            “ Ada apa dengannya ? Kenapa dia bisa basah kuyup seperti ini ? ” Tanya Omma Hyunso ke Minhyu.

            “ Ini semua gara-gara aku ahjumma. Aku mengungkit lagi masalah tentang Jungmin Oppa kepadanya. Dan rupanya ia masih sedih soal itu. Mianhae ahjumma.” Minhyu menundukkan kepalanya.

            “Ah, anak ini. Masih saja teringat. Gwenchana Minhyu. Kau tidak usah minta maaf. Ngomong-ngomong, kau siapa nak ? ” Tanya Omma Hyunso kearah Kwangmin.

            “ Mianhae ahjumma aku belum memperkenalkan diri. Na neun Jo Kwangmin imnida. Aku murid pindahan dari Pennsilvania. Teman sebangkunya Hyunso.” Kata Kwangmin membungkukkan badannya.

            “ Oh. Gomawo sudah membawa Hyunso kesini… Pennsilvania ? Bukannya Jungmin pernah tinggal disana ?  ”

            “ Ne ahjumma. Jungmin oppa pernah tinggal disana. Kebetulan yang sangat aneh bukan ? ”  Jawab Minhyu. Kwangmin hanya tersenyum.

            “ Mian ahjumma. Aku harus segera pulang.  ” Kata Kwangmin.

            “ Oh. Kau mau pulang ? Tidak tinggal dulu untuk makan ? ”

            “ Ah, Gomawo. Ahjumma tidak usah repot-repot. ”

            “ Baiklah kalau begitu. Gomawo sudah mengantarkan Hyunso kemari. ”

            “ Cheonman. Aku pamit dulu. Annyeong. ” Kwangmin menundukkan kepalanya dan berbalik. Lalu ia menutup pintu kamar Hyunso.

            Seseorang segera muncul disampingnya. “ Sepertinya kau mati disaat yang kurang tepat ya ?! “ Kata Kwangmin seraya berjalan perlahan diikuti oleh orang itu.


****

            Hyunso membuka matanya perlahan. Tampak sinar matahari sudah menyorot kamarnya dengan sinarnya yang begitu terang. “ Jam berapa sekarang ? ” Tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. Ia melihat jam dinding dan terlonjak kaget. “ Astaga. Sudah jam 9. Aku terlambat sekolah. Eottohke ? ” Kemudian dilihatnya pintu kamar terbuka. Omma nya masuk membawakan sarapan.

            “ Kau sudah bangun ? ” Tanya Omma nya sembari duduk di tepi tempat tidur.

            “ Ne. Kenapa omma tidak membangunkanku ? Aku terlambat sekolah kan.”

            “ Kau jangan sekolah hari ini. Istirahat saja dulu. Kau baru saja sembuh dari demam tinggi.”

            “ Demam ? Aku ? Kok bisa ? ”
          
            “ Mana omma tau. Kemarin kamu pulang dibopong sama Kwangmin dengan keadaan pingsan. ”

            “ Mwo ? Kwangmin membopongku ? ”

            “ Ne. Kasihan sekali dia harus membopongmu yang berat ini. Omma sampai tidak enak hati sama dia. Sudahlah, sekarang kau makan saja dulu. Minhyu bilang, sepulang sekolah dia akan kemari.”

            “ Ne. Baiklah.”

            “ Habiskan makanannya. Jangan sampai ada sisa. Kau belum makan sama sekali dari kemarin malam.” Omma nya meninggalkan Hyunso yang termenung.

           ‘ Kwangmin.. membopongku ? Ya ampun. ’ Batin Hyunso.

****                

            ‘TOK-TOK-TOK’

            Seseorang mengetuk pintu kamar Hyunso. “ Masuk saja. Tidak aku kunci kok.” Kemudian seseorang masuk. “ Annyeong Hyuso. Bagaimana keadaanmu ? ” Ternyata yang datang adalah Minhyu. “ Aku baik-baik saja. ”

            “ Baguslah kalau begitu. Oh iya, aku juga mengajak seseorang kemari. Kwangmin, kau masuk saja. ”

            ‘ Mwo ? Kwangmin ? Harus bagaimana sikapku nanti didepannya ?’ Batin Hyunso. Ia menoleh kearah pintu. Dilihat Kwangmin masuk dengan membawa sesuatu.

            “ Annyeong. Bagaimana kabarmu ? ”            Tanya Kwangmin.

            “ Hmmm. Baik-baik saja. Seperti yang kau lihat.”

            “ Baguslah kalau begitu. Ini aku bawakan buah. Aku tidak tahu buah apa saja yang kau sukai. Jadi aku memilih buahnya sesuka hatiku.” Kwangmin menyerahkan bingkisan yang ia bawa ke Hyunso.

            “ Gomawo.”

            “ Cheonmaneyo. Kalau bisa, buah itu dimakan ya. Jangan dibiarkan sampai membusuk.”

            “ Oke.” Hyunso membuka bingkisannya. “ Omo, ini buah yang aku sukai semuanya. Ada jeruk, mangga, anggur dan apel. Katanya kau tidak tahu buah kesukaanku ? ” Kata Hyunso kagum.

            “ Jeongmal ? Waah, baguslah kalau begitu. Kan tadi sudah aku bilang kalau aku membelinya sesuka hatiku. Tapi baguslah kalau aku tidak salah. ”

            “ Gomawo sekali lagi. Dan juga gomawo karena kau sudah mengantarkanku ke rumah.”

            “ Oh. Itu tidak masalah. Tapi…”

            “ Tapi apa ? ”

            “ Ternyata kau leih berat dibanding yang aku kira. Pinggangku hampir patah karena menggendongmu sampai sini.” Canda Kwangmin. Minhyu tertawa kecil.

            “ YAA ! Jadi kau pikir aku kelebihan berat badan, begitu ? ”

            “ Aku tidak bilang seperti itu. Aku kan hanya bilang kau lebih berat dari keliatannya.”

            “ Tapi sama saja kau menganggapku kelebihan berat. ” Hyunso melipat kedua tangannya diatas dada.

            “ Aissh. Sudahlah. Kenapa jadi mempermasalahkan berat badan sih ? ” Minhyu menyela mereka berdua. “ Aku ambil pisau dan piring dulu. Kalian berdua jangan coba-coba adu mulut lagi.” Minhyu beranjak ke dapur. Meninggalkan Kwangmin dan Hyunso dikamar.

            Kwangmin memandangi kamar Hyunso. Namun perhatiannya terhenti disalah satu figura yang terletak persis disamping ranjang Hyunso. Kwangmin berjalan perlahan lalu ia mengambil figura itu. Ia memandangi foto yang ada. Hyunso menyadari bahwa Kwangmin sedang memandangi foto tersebut. Ia hanya tertunduk lesu.

            “ Ini siapa ? ” Tanya Kwangmin seraya duduk di tepi ranjang. Hyunso hanya terdiam.

            “ Kau mau memberitahuku ? ” Tanya Kwangmin lagi.

            Hyunso mengangguk namun ia masih menundukkan wajahnya, “ Itu Jungmin oppa.”

            “ Oh. Dia sepupumu ? ”

            “ Bukan. Dia teman mainku sejak kecil dan..”

            “ Dan kau menyukainya ? ”

            Hyunso mengangkat wajahnya, memandang Kwangmin. Mereka berpandangan cukup lama sebelum akhirnya Hyunso mengangguk. “ Sangat.”

            “ Dia tahu perasaaanmu ? ”

            Hyunso menggeleng, “ Mungkin ia tidak tahu.”

            “ Apa kau tahu perasaan dia padamu seperti apa ?”

            “ Aku rasa dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Tidak lebih.”

            “ Lalu sekarang ia dimana ? ”

            Hyunso kembali terdiam. Ia tidak sanggup berkata bahwa Jungmin sudah mati. Ia benar-benar belum mempercayai itu sampai sekarang. “ Dia sudah… pergi. “

            “ Pergi ? Maksudmu.. mati ? ” Tanya Kwangmin hati-hati.

            Hyunso kembali terdiam. Badannya sudah bergetar. Ia tidak sanggup untuk membicarakannya lagi. Kwangmin kembali meletakkan figura itu. Ia tahu bahwa Hyunso sudah hampir menangis. Oleh karena itu, ia tidak melanjutkan pertanyaannya.

            Ia memandang Hyunso yang tertunduk. Ia menyentuh tangan Hyunso dan menggenggamnya. “ Kau harus tabah. Oke ? ” Kata Kwangmin mencoba untuk menghibur Hyunso. Ia menyentuh dagu Hyunso dan mengangkat wajahnya. “ Jangan terus bersedih. Kau harus semangat. Ara ? ” Hyunso mengangguk. Kwangmin pun tersenyum melihatnya.

            Minhyu baru datang lagi, “ Haah, susah sekali mencari pisau.. Kalian berdua sedang apa ? “ MInhyu terdiam melihat Kwangmin menyentuh dagu Hyunso. Kwangmin merasa malu dan langsung melepaskannya. Hyunso juga tersipu malu. “ Aissh, sepertinya aku ketinggalan berita nih..” Minhyu memberikan senyum ‘Evil’ nya.

****

            Begitu sampai dirumah, setelah ia menjenguk Hyunso, Kwangmin segera mandi untuk menyegarkan badannya. Setelah selesai, ia mengeringkan rambutnya dan merebahkan tubuhnya diranjang. “ Huuuh.” Kwangmin mendesah.

            “ Setelah ini, apa yang harus aku lakukan ? Maksudnya ‘kita’ lakukan ? ” Kwangmin menoleh ke samping. Dilihatnya seseorang menampakkan diri. “ Aku tidak tahu. Aku masih ragu untuk melakukannya. “

            “ Aku hanya mengikuti katamu saja. Ngomong-ngomong berapa lama waktumu untuk tinggal disini, JUNGMIN ? ”

            Jungmin menoleh dan tersenyum. “ Mungkin tidak akan lama lagi. ”

            “ Kapan ? ”

            “ Sampai aku menyelesaikan urusanku disini. Kau akan terus membantuku kan ? ”

            “ Akan kubantu semampuku.”

            “ Gomawo.” Jungmin tersenyum lagi. Mereka berdua terdiam cukup lama.

            Kwangmin berkata, “ Kau tahu ? Seharusnya akulah yang mati saat itu, bukan kau. ”
           Kwangmin berkata, “ Kau tahu ? Saat kecelakaan itu, seharusnya akulah yang mati bukan kau. ”

            “ Apa maksudmu ? ” Jungmin terlihat heran. Kwangmin tersenyum, “ Hmmm.. Aku baru memikirkan itu setelah selesai kecelakaan. Kau ingat siapa yang duduk disebelahmu dulu ? ”

            ~Flash Back~

             “ Harap para penumpang memakai sabuk pengaman dan masker. Kita berada dalam keadaan genting. Dimohon para penumpang agar tenang. ” Ucap seorang pramugara dari pengeras suara.

            Kwangmin hanya terdiam. Ia tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh sang pramugara. Ia menoleh kesamping kanannya. Terlihat seseorang sedang berdoa, “ Tuhan, tolong selamatkan aku. Aku harus bertemu dengan seseorang saat ini. Tolong tuhan. ”          

            Kwangmin memandang sinis orang tersebut. ‘ Untuk apa ia berdoa ? Toh semuanya juga bakal mati kalau sudah seperti ini.’ Batinnya. Lalu terdengar bunyi alarm tanda bahaya. ‘ Aku sudah siap mati tuhan. Jadi tolong ambil saja nyawaku ini. Aku sudah tahan hidup didunia yang mengerikan ini.’ Batin Kwangmin sembari menutup matanya.

            Pesawat tersebut tenggelam diperairan yang tidak begitu jauh dari korea, tempat tujuan Kwangmin. Kwangmin dan salah seorang penumpang (orang yang duduk tepat disampingnya) berhasil keluar dari pesawat tersebut. Mereka berusaha berenang untuk sampai keatas untuk mendapat suplay oksigen.

            Beberapa meter sebelum sampai keatas, Penumpang yang bersamanya tersebut tiba-tiba terdiam. Dan kesadarannya mulai hilang. Melihat itu, Kwangmin membantunya untuk sampai diatas. Namun orang tersebut melepaskan genggaman Kwangmin dan jatuh kedasar laut. Kwangmin hanya diam terpaku. Lalu ia melanjutkan berenang sampai keatas.

           Namun sebelum sampai keatas, Kwangmin sudah kehabisan nafas. Ia sudah tidak kuat. Ia memasrahkan dirinya. Kesadarannya sudah mulai hilang. Ia membiarkan dirinya jatuh perlahan kedasar laut. Namun entah mengapa ia merasakan ada yang menariknya untuk sampai keatas. Terdengar suara yang begitu tenang, “ Kau belum boleh mati. Kau harus tetap hidup. “ Kwangmin hanya melihat samar-samar wajahnya. Dan kemudian ia tidak sadarkan diri.

           Saat ia sadar, ternyata ia sudah berada di rumah sakit. Ia menoleh kesamping dan dilihatnya saudara kembarnya tersenyum, “ Kau sudah sadar. Akan aku panggilkan omma dan dokter.” Kwangmin ikut tersenyum.

          Tiba-tiba seseorang entah dari mana muncul persis ditempat saudara kembarnya tadi berada. “ Siapa kau ? ” Tanya Kwangmin. Orang itu tersenyum. “ Kau tidak ingat siapa aku ? ” Kata orang tersebut. Kwangmin mengerutkan dahinya, tampak berpikir. “ Kau.. Bukannya..”

          Sebelum menjawab, orang tersebut menyela Kwangmin, “ Benar. Aku yang duduk disebelahmu.”

          “ Bukannya kau… ”

         “ Mati. Benar. Aku memang sudah mati. Tapi karena masih ada urusan disini, aku diberi kesempatan untuk menyelesaikan urusanku. ”

         “ Lalu, apa hubungannya denganku ? ”

         “ Karena kaulah satu-satunya orang yang masih hidup, jadi aku butuh bantuanmu.”

         “ Maksudnya ?”

         “ Nanti akan aku beritahu.”

~Flash Back END~

            “ Begitulah.” Kata Kwangmin selesai menceritakan.

            “ Kalau itu aku sudah tahu. Lalu, apa alasannya kau bilang bahwa harusnya kaulah yang mati ?” Kata Jungmin.

            “ Kau tahu alasan aku pulang ke korea ? ” Tanya Kwangmin. Dilihatnya Jungmin menggeleng. “ Sebetulnya aku ingin berpamitan pada seluruh keluargaku. ” Lanjut Kwangmin.

            “ Untuk apa ? ”

            “ Aku ingin mati. ”

            Jungmin terkejut mendengarnya. “ Mwo ? Mati ? Kenapa ? ”

            “ Aku sebenarnya sudah tidak tahan hidup didunia yang menyeramkan seperti ini. ”

            “ Kau jangan pernah menyia-nyiakan nyawa mu seperti itu. Aku benci sekali orang yang seperti itu. ” Jungmin tiba-tiba marah. “ Kau tahu, sampai sekarang aku masih belum bisa percaya bahwa aku sudah mati. Dengan semua urusanku yang belum selesai didunia ini. Untung saja aku masih diberi kesempatan untuk menyelesaikannya sampai aku benar-benar pergi dari dunia ini.” Lanjut Jungmin.

            Kwangmin langsung berdiri dan berjalan menuju jendela rumahnya. Ia memandangi halaman rumah nya yang asri. Jungmin juga mengikutinya. Ikut memandang halaman rumah Kwangmin. Kwangmin mendesah (lagi). “ Tapi… Jangan pernah salahkan aku.” Kata Kwangmin. Ia masih memandang kedepan tanpa menoleh kearah Jungmin.

            “ Untuk apa aku menyalahkanmu ? ” Jungmin menoleh ke Kwangmin. Kwangmin hanya tersenyum. Ia menoleh kearah Jungmin. Jungmin melihat kedalam mata Kwangmin. Ia mengerti apa maksudnya. “ Aaa, aku mengerti. ” Jungmin  kembali memandang kedepan.

            Keheningan menyelimuti mereka berdua. “ Aku tidak akan menyalahkanmu.” Jungmin tersenyum. “ Aku akan merasa lega. ”

****

            “ Omma, aku pergi sekolah dulu ya.” Teriak Hyunso dari ruang depan.

            “ Kau tidak mau istirahat dulu sehari lagi ? ” Omma nya melepaskan celemek yang ia pakai dan menghampiri anak semata wayangnya itu.

            “ Tidak omma. Seharian aja sudah cukup. Kemarin waktu Minhyu kemari saja sudah banyak Pr. Apalagi kalau aku tidak masuk lagi omma. Bisa bisa nilai ku turun nanti.”

            “ Ya sudahlah. Terserah kamu saja. Tapi kalau kamu gak enak badan, langsung pulang saja ya. ”

            “ Oke omma. Aku berangkat dulu ya. Annyeong.” Hyunso mencium pipi Omma nya dan pergi.


          
****

            “ Annyeong Hyunso.”

            Hyunso menoleh dan dilihatnya Kwangmin sudah ada disebelahnya. Hyunso tersenyum, “ Annyeong Kwangmin. ”

            “ Bagaimana kabarmu ? Sudah sehat ? ” Tanya Kwangmin.

            Hyunso mengangguk, “ Ne. Aku sudah sehat. Gomawo sudah menghawatirkanku.”

            “ Cheonman. Buah yang aku berikan sudah kau makan ? ”

            Hyunso mengangguk, “ Sudah. Enak sekali. Masih ada beberapa buah lagi yang belum aku makan.”

            “ Baguslah kalau begitu. Jangan dibiarkan membusuk ya.”

            “ Oke.”

            Terdengar bunyi bel sekolah. “ Bel sudah bunyi. Kajja.” Kwangmin menggenggam tangan Hyunso. Wajah Hyunso terlihat memerah. Ia pun mengikuti Kwangmin berlari-lari kecil.

****

            Sesampainya dikelas, semua orang menyoraki Kwangmin dan Hyunso yang baru datang.

          “ Ada pasangan baru nih dikelas ini.” Teriak Minhyu. Kwangmin dan Hyunso yang baru sampai dikelas terlihat bingung. Mereka memasuki kelas bersama. “ Tuhkan bener. Mereka aja sampai pegangan tangan segala. ” Lanjut Minhyu.

           Menyadari hal itu, Hyunso segera melepaskan tangannya dari genggaman Kwangmin. Wajahnya terlihat seperi kepiting rebus. “ Gak usah dilepas dong.” Goda Minhyu lagi. Kwangmin dan Hyunso tetap berjalan menuju kursinya. Lalu duduk dan mendengarkan ejekan teman-temannya satu kelas.

          Tiba-tiba seseorang menggebrak mejanya. “ YA ! Bisakah kalian diam ? Ocehan kalian itu bikin telingaku panas.” Semua orang menoleh kesumber suara itu. Ternyata Youngmin.

         “ Kau kenapa Youngmin ? Jangan-jangan kau cemburu dengan kembaranmu ya kalau Hyunso sudah direbutnya ? ” Tanya seorang namja yang paling keras suaranya saat mengejel Hyunso.

        “ Kata siapa aku cemburu, hah ? Untuk apa cemburu karena si Cerewet satu itu ? ” Kata Youngmin. Ia membuang muka.

        “ Kau jangan munafik seperti itu. Sudah terlihat dari mukamu kalau kau menyukai Hyunso. ” Kata Minhyu. Hyunso melihat Youngmin. Mata mereka bertemu pandang. Dengan segera Youngmin mengalihkan pandangannya lagi.

        “ Sudahlah. Terserah kalian. Aku sudah tidak peduli. ” Youngmin berdiri dan pergi.

         ‘ Ada apa dengannya ? ’ Batin Hyunso.

****

            “ Aishh, Jinjja. ” Youngmin mengacak-acak rambutnya. “ Kenapa aku jadi kacau begini ? ” Ia berjalan menyusuri koridor sekolah. Tidak peduli dengan keadaan sekolah yang sudah kosong karena guru sudah masuk kekelas.

            Youngmin berjalan menuju pohon besar yang terletak dibelakang sekolah. Ia merebahkan tubuhnya, menumpu kepala dengan kedua tangannya dan memandang langit. “ Huuh. ” Ia mendesah. “ Apa yang sebenarnya terjadi padaku ? ” Kemudian ia menutup matanya. Hendak tidur.

            “ Hyong..” Sebuah suara membangunkannya. Ia mencari arah suara itu. Ia melihat Kwangmin berjalan kearahnya. “ Apa yang kau lakukan disini ? ” Tanyanya.

           “ Aku hanya ingin bicara padamu. ” Jawab Kwangmin.

           “ Bicara soal apa ? Soal Yeoja chingumu yang baru ? ”

           Kwangmin hanya tersenyum. Ia segera duduk disamping kakaknya yang masih tiduran.

         “ Yeoja chinguku ? Maksudmu Hyunso ? ” Tanya Kwangmin.

         “ Siapa lagi kalau bukan dia. ” Youngmin mengeluarkan nada sinisnya. Kwangmin masih tersenyum melihat kelakuan saudara kembarnya itu.

          “ Kau cemburu hyong ? ” Tanya Kwangmin.

          “ Aku ? Cemburu ? Untuk apa ? Tidak ada gunanya aku cemburu. ”

         “ Hahaha. Aku kenal kau hyong. Kau jangan menipuku. Kalau kau tidak cemburu, untuk apa marah-marah ? Kau suka Hyunso kan ?! ”

         “…” Youngmin hanya terdiam.

         “ Benar dugaanku. Untuk apa kau melarangku dekat-dekat dengan Hyunso saat pertama kali aku masuk sekolah ini ? Itu karena kau menyukainnya Hyong.  ”

         “ … ” Yougmin masih tidak berbicara.

        “ Tapi mian Hyong. Aku tidak akan menuruti kata-kata mu dulu. ”

          Youngmin menatap Kwangmin. Mereka bertatapan. Youngmin menatap kembarannya itu. Bermaksud membaca pikirannya. Youngmin terkejut saat ia tahu pikiran Kwangmin.

         “ Kau..” Sebelum Youngmin menyelesaikan ucapannya Kwangmin menyela, “ Ne. Aku menyukainya, Hyong. Sangat. ”

           Mendengar itu, Youngmin hanya bisa terdiam (lagi). “ Aku harap kita bisa bersaing secara sehat Hyong. ” Kwangmin tersenyum lalu meninggalkan Youngmin sendirian.


****

            Kwangmin meninggalkan Youngmin sendirian. Kemudian setelah merasa Youngmin tidak melihat sosoknya, ia terhenti. Tiba-tiba tubuhnya terhentak kedepan sedikit. Sesuatu keluar dari tubuhnya. Kwangmin mengerjapkan matanya dan terlihat marah.

          “ YAA, LEE JUNGMIN !! Untuk apa kau meminjam tubuhku ? ”

           Jungmin hanya tersenyum, “ Mian. ”

         “ Apa yang katakan kepada Hyong ? ”

         “ Aku ? Aku hanya mengatakan kalau kau menyukai Hyunso dan ingin bertarung secara sehat. Itu saja. ” Kata Jungmin dengan wajah innocent nya.

       “ MWO ? Kau mengatakan itu padanya ? ” Kwangmin membelalakkan matanya yang semakin besar (?).  Dilihatnya Jungmin mengangguk.

      “ Aishh, Jinjja. Apa yag akan dilakukannya padaku nanti ? ”

     “ Tenang saja. Semua sudah aku atur. Tapi kan semua yang aku katakan seseuai dengan yang ada di hatimu kan ?! ”

      “…” Kwangmin hanya terdiam. Jungmin tersenyum melihat kelakuan aneh Kwangmin.

     “ Sudahlah. Kau tidak usah merasa bersalah padaku. Aku malah merasa senang. Tapi sebelum itu, kau harus tetap membantuku ya. Karena waktuku tidak akan lama lagi.” Jungmin menepuk-nepuk pundak Kwangmin.

****

            “ Dari mana saja ? ” Tanya Hyunso ketika melihat Kwangmin  saja tiba dikelas dan duduk disampingnya. Ini sedang istirahat makan siang.

            “ Oh. Aku hanya menemui Hyong saja.” Jawab Kwangmin.

           “ Kau mau ini ? ” Hyunso menyodorkan bekal siangnya. Kwangmin tersenyum dan menggeleng. “ Gomawo. Tapi aku tidak lapar.”

          ‘ Kruyuuk’

           Bunyi aneh terdengar oleh mereka berdua. Kwangmin memegangi perutnya. Hyunso melihat perut Kwangmin lalu matanya tertuju pada Kwangmin. Ia terkikik kecil.

        “ Kau bisa bohong padaku tapi perutmu tidak bisa.”

        “ Hehehe. Mian.” Kwangmin hanya tertawa kecil.

        “ Ini. Kau makan saja bekalku. Omma membuatnya terlalu banyak. Lagipula aku sudah kenyang. ” Hyunso menyodorkan bekal makanannya.Dan Kwangmin menerimanya dengan senang hati. “ Gomawo Hyunso.” Kemudian ia makan dengan lahapnya.

         Menumpu dagunya disalah satu tangannya. Hyunso tersenyum melihat Kwangmin makan. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela kelas. Melihat matahari yang begitu semangatnya menyinari bumi.

         Tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan. Hyunso terpaku melihatnya. Bayangan menatap Hyunso. Hyunso menegakkan tubuhnya. Pandangannya tidak beralih satu detik pun dari bayangan itu. “ Oppa..” Ucapnya lirih.  Bayangan itu tersenyum bahagia. Bibirnya mengucapkan sesuatu, “ Hyunso-ah…”

      “ Jungmin oppa…” Suara Hyunso bergetar. Setetes air jatuh membasahi pipi tirus Hyunso. Bayangan itu masih tersenyum, tapi tatapannya terlihat sedih. Dan kemudian bayangan itu menghilang. Hyunso segera menghapus air matanya sebelum Kwangmin menyadarinya.

       Namun sebenarnya, sedari tadi Kwangmin sudah memperhatikannya.
 
****
 
          “ Kau memperlihatkan dirimu ke Hyunso ? Waeyo ? ” Tanya Kwangmin yang sedang berjalan menuju rumahnya.

          “ Hanya ingin melihatnya saja secara langsung. Sebentar lagi kan aku sudah lenyap, jadi tidak apa-apalah. ”

         “ Huuh.. Terserah dirimu saja. ” Kata Kwangmin. Namun ia menghentikan langkahnya. Jungmin juga ikut berhenti. Kwangmin menoleh kearah Jungmin. “ Kau.. benar-benar tidak akan menyesal kan ? ” Tanya Kwangmin.

       “ Sudah aku bilang aku tidak akan menyesal. Kau ini bagaimana ?! ”

       “ Yasudah. Oh ya, kenapa kau bisa menampakkan dirimu didepan Hyunso ? Bukankah hanya aku yang bisa melihatmu ? ”

       “ Aku lupa mengatakannya. Seseorang yang sudah mati seperti aku, akan bisa dilihat oleh orang lain menjelang pergi. Karena mungkin sebentar lagi aku pergi, Hyunso bisa melihatku. Dan beberapa menit sebelum aku benar-benar akan menghilang, aku akan terlihat seperti saat aku masih hidup. Seperti wujud manusia lagi. ” Kata Jungmin menjelaskan.

         “ Oh. Arasseo. ”

****

         “ Huuh.” Hyunso mendesah. Ini sudah ke 10 kalinya ia mendesah. Ia sedang memandangi gemerlapnya kota Seoul ditengah malam gelap yang terlihat dibalik jendela kamarnya. ‘ Kwangmin.. Kenapa ia begitu baik ? Ia mengingatkanku pada Oppa. ‘ Batin Hyunso.

         Lalu ia termenung tentang kejadian tadi siang. Ketika ia melihat bayangan Jungmin. Entah mengapa bayangan itu terlihat begitu nyata. Seperti bukan halusinasinya. ‘ kenapa pandangannya terlihat sedih ? ’ Batin Hyunso lagi. Kemudian pandangannya beralih ke jalanan didepan rumahnya.
 
        Terlihat bayangan seseorang dibawah sinar lampu jalan. Hanya sebagian dari tubuhnya yang terlihat karena tertutup oleh gelap. Hyunso menyipitkan matanya. Dilihatnya orang itu sedang menatap rumahnya. Tepat di jendela kamarnya. Seulas senyum terbentuk dibibirnya. Lalu orang itu pergi.
 
         “ Siapa dia ? ”

****

           Jungmin baru saja tiba. Ia baru saja melihat dari dekat rumah Hyunso. Ia terlihat senang.

          ‘ Akhirnya aku melihat rumah itu. Dan aku melihat Hyunso dijendela kamarnya.’ Batin Jungmin. Ia melihat Kwangmin sudah tertidur pulas. Jungmin terkikik kecil melihatnya. “ Gomawo Kwangmin. Sebentar lagi aku tidak akan merepotkanmu. ” dan Jungmin pun menghilang.

****
            Rumah Kwangmin, Jumat 31 Desember. ( 363 hari setelah kecelakaan pesawat)

           Matahari sudah menampakkan cahaya. Kwangmin terbangun dari tidurnya yang pulas. Ia melihat Jungmin sedang termenung. “ Ada  apa denganmu ? ” Tanya Kwangmin.

         Jungmin menoleh. “ Hmm. Ani. Kau tidak bersiap-siap ? kau nanti kesiangan.”

         Kwangmin melihat jam, “ Ah, iya. Sudah jam 6. ” Kemudian ia turun dari ranjangnya, mengambil handuk yang digantung disebelah lemari pakaian dan masuk ke kamar mandi. Kwangmin membuka pintunya lagi. Kepalanya menyembul keluar, “ Tunggu dulu, sekarang hari apa ? ”

        “ Hari Jumat tanggal 31 desember. Kenapa memangnya ? ”

       “ Oh. Tidak apa-apa. Dikira hari minggu. Siapa tahu aku bisa kembali tidur. ” Lalu Kwangmin kembali masuk ke kamar mandi. Jungmin hanya tersenyum.

       ‘ Tinggal 2 hari lagi sebelum waktunya’ Batin Jungmin.
 
****

        “ Kwangmin-aa… ” Hyunso memanggil Kwangmin yang sedang asik mendengarkan musik. “ Hmmm…”

       “ Lusa kau ada acara tidak ? ”

       “ Ani. Memangnya kenapa ? ”

       “ Kau mau menemaniku pergi ? ”

        “ Kemana ? ”

        “ Hmm, ada lah. Lusa kau juga akan tahu. Kau mau ikut ? Minhyu juga ikut kok.”

        “ Baiklah kalau begitu.”

        “ Gomawo Kwangmin.”

****

            Di bus arah Busan, Minggu 2 Januari.

          “ Sebenarnya kita mau kemana ? ” Tanya Kwangmin ke Minhyu. Ia memelankan suaranya agar tidak didengar oleh Hyunso.

         “ Kau tidak tahu kita mau kemana ? ” Tanya Minhyu.

           Kwangmin menggeleng, “ Aniya.”

         “ Kita mau ke makam Jungmin. Kau tahu tidak, hari ini adalah peringatan kematiannya.”

        “ Peringatan kematiannya…”


         ~Flash Back~

        “ Besok aku ingin pergi bersama Hyunso dan Minhyu. ” Kata Kwangmin yang sedari duduk dibangku taman rumahnya. Jungmin menoleh, “ Besok ? Mau kemana ? ”

       Kwangmin mengangkat bahunya, “ Aku tidak tahu. Hyunso tidak mengatakannya padaku.”

        “ Oh.”

       “ Kau tahu besok tanggal berapa ? ” Tanya Jungmin lagi.

      “ Tanggal 2 Januari. Kenapa memangnya ? ”

      “ Tidakkah kau ingat tanggal itu ? ”

      “ Hmmm, Itu hanya tanggal 2 Januari kan ?! ”

      “ Hahaha. Iyalah. ”

      “ Huuh. Kau ini bagaimana.”

     “ Hahaha. Tanggal segitu aku juga tidak akan mengikutimu dulu. Aku ada urusan sedikit. Oke ?  ”

     “ Hmm. Okelah.”

       ~Flash Back end~

                “ Peringatan kematiannya ? Pantas saja Hyunso bawa bunga.”
                “ Yap. Itu benar. Aaah, kita sudah sampai.” Kata Minhyu.
                Mereka bertiga turun dari bus. Dilihatnya padang rumput yang luas terhampar didepan mereka. Hyunso berjalan perlahan menyusuri padang tersebut. Diikuti oleh Minhyu dan Kwangmin.

                Mereka berjalan cukup lama sampai Hyunso berhenti di sebuah  gundukan tanah yang cukup besar. Terdapat batu nisan disana. Lalu Hyunso terduduk disamping gundukan tersebut. Ia menaruh buket bunga yang ia bawa kemudian mengelus-elus batu nisan itu.
                “ Oppa.. Aku datang lagi.. Kali ini aku tidak sendirian. Aku ditemani Minhyu dan Kwangmin. Kau belum tahu siapa Kwangmin kan ? Ia adalah teman sebangku ku. Ia sangat baik oppa. Seperti dirimu. Aku sangat senang berteman dengannya. ”
                Minhyu dan Kwangmin hanya terdiam memandang Hyunso.
                “ Oppa.. Bagaimana keadaanmu disana ? Apakah kau bahagia dan tenang disana ? Apakah kau tidak merindukanku disana ? Kau tahu, disini aku sangat merindukanmu oppa. Jeongmal Bogoshippeo.. “ Suara Hyunso terlihat bergetar. Tangisannya sudah tidak dapat ditahan lagi.
                “ Oppa… ” Hyunso terisak. Tiba-tiba terdengar suara yang sudah lama tidak Hyunso dengar. Kwangmin dan Minhyu juga mendengarnya. “ Hyunso-ah…”
                “ Suara itu…” Kata Minhyu.
                “ Jungmin ? ” Kwangmin sedikit ragu dengan pendengarannya. Hyunso mencari-cari sumber suara itu. “ Oppa.. ” Hyunso masih mencari suara itu. Berlari-lari kecil. Tiba-tiba sesosok bayangan muncul tidak jauh dari Hyunso. Perlahan-lahan bayangan itu mulai tampak. Dan dilihatnya sosok Jungmin sedang tersenyum sendu kearahnya.
                “ Oppa…” Hyunso kembali terisak. Kali ini terisak lebih kencang. Ia sampai menutup mulut dengan salah satu tangannya agar tidak terlalu keras.
                “ Jangan menangis Hyunso-ah. ” Kata Jungmin lagi. Ia mulai mendekati Hyunso yang terdiam karena menangis. Ia kemudian memegang wajah Hyunso. “ Uljimayo. Jangan menangis Hyunso. ”
                Hyunso hanya terdiam. Merasakan sentuhan lembut Jungmin. “ Benarkah ? Benarkah kau Jungmin oppa ? “ Tanya Hyunso tidak percaya. “ Ya. Ini aku. ” Jungmin tersenyum. Mereka berdua saling bertatapan.
                Dari jauh, Minhyu terlihat ikut menangis. Kwangmin memandang heran Hyunso dan Jungmin. ‘ Jungmin bisa menyentuh Hyunso ? Jangan-jangan…’ Kwangmin segera berlari kearah Hyunso.

                “ Oppa.. Ada yang harus aku katakan padamu. Aku menyukaimu. Sangat. Dari dulu oppa. Hatiku sampai sekarang masih…” Jungmin meletakkan telunjukkan dibibir Hyunso.
                “ Sssst. Aku tahu kau menyukaiku. Bahkan dari dulu aku juga sudah tahu. Aku percaya itu. Tapi perkataanmu yang sampai sekarang menyukaiku, aku tidak percaya itu.”
                “ Kenapa kau tidak percaya oppa ? ”
                Jungmin menyentuh tepat didada Hyunso, “ Sebab, dihatimu, jauh dilubuk hatimu kau sudah menyukai orang lain. Bahkan kau lebih menyukainya dibanding aku. ”
                Hyunso menggeleng, “ Tidak mungkin oppa..”
                “ Kau hanya belum sadar saja. ” Hyunso terlihat bingung.
                “ YA ! Lee Jungmin..” Kwangmin berteriak. Ia menghampiri Hyunso dan Jungmin.
                “ Kwangin mengenal oppa ? ” Tanya Hyunso.
                “ Ya. Aku mengenalnya. Dia teman baikku. ” Jawab Jungmin. Kwangmin terlihat kehabisan nafas. Setelah bisa mengatur nafasnya, ia menatap Jungmi sengit. “ YA ! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku ? ”
                “ hahaha. Mian Kwangmin. Aku hanya ingin tidak menganggumu.”
                “ Mengganggu ? Kau kira dengan kau bersamaku setiap hari itu tidak menggangu ? ”
              “ Mian, mian. Kau harus memaafkan temanmu yang ingin pergi ini. Bisa-bisa aku tidak tenang nanti.”
                “ Pergi ? Oppa mau pergi kemana ? ” Tanya Hyunso heran.
                Jungmin tersenyum memandang Hyunso, “ Pergi ketempat dimana aku seharusnya.”
                “ Oppa jangan pergi. Kau harus disini.” Hyunso menggenggam tangan Jungmin. Tapi tidak berhasil. Tangannya malah hanya seperti memegang udara bebas.
                “ Oppa… Kenapa kau..kenapa kau tidak bisa aku genggam ? ” Hyunso memandangi Jungmin yang tersenyum sedih.

                “ Kau.. Jangan bilang sudah waktunya Jungmin ?! ” Kata Kwangmin terlihat emosi.
                “ Memang sudah waktunya. Aku sudah hampir menyelesaikan semua urusaku disiminni. Dan hanya tinggal 1 lagi yang belum aku selesaikan.” Jungmin menatap Hyunso. Dilihatnya air mata sudah hampir jatuh dari matanya (lagi). “ Sudah aku bilang kalau kau tidak boleh menangis lagi. ”
                “ Aku sudah berusaha,oppa. Tapi tidak bisa..”
                “ Aishh, kau ini. Pokoknya saat aku pergi, kau harus berhenti menangis. Kau harus berjanji padaku, ara ? ” Dilihatnya Hyunso mengangguk.
                “ Terima kasih untukmu Kwangmin. Terima kasih karena kau sudah mau diganggu hidupnya olehku. Terima kasih karena kau sudah mau membantuku. Gomapseumnida.” Jungmin membungkukkan tubuhnya.
                Perlahan-lahan bayangan Jungmin mulai memudar. Hyunso semakin tidak bisa melihatnya.
                “ Ada satu hal yang belum aku katakan padamu Hyunso. Inilah yang membuatku masih disini sampai sekarang. Aku mencintaimu. Jauh sebelum kau menyukaiku aku sudah mencintaimu. Dari lubuk hatiku, hanya kaulah seorang. Tidak pernah ada yang lain.”
                Hyunso terkejut dengan ucapan Jungmin. Ia melihat Jungmin tersenyum bahagia dihadapannya. Dan bayangan Jungmin semakin menghilang dari pandangannya. “ Kwangmin, jagalah Hyunso baik-baik. Aku menyerahkannya padamu. ”
                Kwangmin mengangguk. Lalu satu hal yang mereka berdua dengar sebelum Jungmin benar-benar hilang adalah, “ Kalian berdua harus bahagia. ”


      Gimana,gimana ? Baguskah ? Aku minta RCL semuanya yaa..
      Masih ngegantung ya ??
      Mau tahu kelanjutan Hyunso dan Kwangmin ?
      Author mau kasih EPILOG nya..
 
     EPILOG
              
                “ YA ! JO KWANGMIN, KEMARI KAU ! Kembalikan Bunga itu ! ” Teriak Hyunso.
                “ No. Aku tidak akan mau. ” Kwangmin berlari agar tidak tertangkap Hyunso. Hyunso berlari mengejar Kwangmin. “ Sekarang gilaranku yang memberikan bunga itu. Tahun lalu kau kan sudah. ” Teriak Hyunso yang masih berusaha mengejar Kwangmin.         
                “ Tidak mau. Sekarang giliranku lagi. ” Kwangmin masih saja berlari. Mereka kemudian sampai disalah satu gundukan tanah yang sudah ada disitu selama 3 tahun lebih.
                “ Hosh,hosh,hosh.” Hyunso terlihat lelah. Kwangmin anehnya terlihat biasa-biasa saja.
                “ Kau tidak apa-apa ? ” Tanya Kwangmin.
                “ Huuh. Aku gak mau menjawab pertanyaanmu. ” Hyunso melipat kedua tangannya diatas dadanya.
                “ Kau jangan marah begitu.”
                “ Biarkan saja. Sudah sana. Aku ingin mengobrol dengan oppa.” Hyunso mengusir Kwangmin. Tapi Kwangmin tidak beranjak dari situ. Hyunso duduk disamping nisan itu.
                “ Annyeong oppa. Aku datang lagi bersama dengan si menyebalkan satu ini.” Hyunso melirik sedikit kearah Kwangmin. Kwangmin pura-pura tidak mendengar.
                “ Oppa tahu, aku sebal sekali dengan dia. Kadang-kadang Hyper nya itu bikin aku sebal. Belum lagi kalau dia melucu, lelucon nya sama sekali gak lucu. Ia membagi hatinya dengan pokemon. Kau tahu apa yang bilang oppa, dia bilang dia lebih cinta dengan pokemonnya dibanding aku. Bagaimana aku tidak sebal ?! ”
                Mendengar itu, Kwangmin hanya tersenyum.
                “ Tapi anehnya oppa, entah mengapa aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Terutama senyum dan perhatiannya itu. Walau ia terlihat cuek, sebenarnya ia begitu perhatian padaku. ” Hyunso kemudian berdiri dan memandangi nisan itu.
              
                Kwangmin memeluk Hyunso dari belakang. Ia meletakkan dagunya dipundak Hyunso.
                “ Kau tahu Jungmin, susah sekali menjaga temanmu yang satu ini. Bikin pusing saja. Tapi semakin aku pusing, aku selalu memikirkannya setiap hari Membuat aku semakin tidak bisa melepaskannya. Aku berterima kasih padamu Jungmin karena bisa pertemukan aku dengannya ” Hyunso tersenyum simpul mendengakan Kwangmin.
                Hyunso menyentuh tangan Kwangmin yang memeluk pinggangnya.
                “ Neon naegosia ( Kau milikku ), Hyunso. Saranghae. ” Bisik Kwangmin.
                “ Nado Kwangmin-aa. Sarangahe.”

THE END
            Eh, belum endingnya deh. Karena Youngmin gak dijelasin disni, Author kasih yaaa.
          Seorang namja sedang berdiri memandangi kota Seoul. Ia sedang berada digedung pencakar langit. Ia mendesah keras. Masih terpikir oleh kejadian itu.
          ~Flash back~
         " Hyong, aku ingin berbicara denganmu. " Kata Kwangmin. Saat itu Youngmin sedang membaca buku dihalaman rumah.
         " Katakan saja."
         " Aku akan bertunangan dengan Hyunso."
         " Hanya itu saja yang ingin kau katakan ? "
         Kwangmin menggeleng, " Satu lagi, aku tidak akan mengurusi perusahaan ayah. Aku memberikan seutuhnya kepada Hyong."
        " Mworago ? "
        " Ne. Setelah aku menikah dengan Hyunso, aku dan dia akan menetap di Pennsilvania."
         " Hmm. Baiklah. Lakukan sesukamu."
          " Gomawo Hyong."
         ~Flash Back End~
       Mengingat itu membuat Youngmin mendesah lagi. Lamunanya tiba-tiba buyar, " Youngmin-ssi, ada tamu untuk anda." Sekretaris Kim memanggil Youngmin. " Ne. Suruh dia untuk menunggu."
        " Ne, Youngmin-ssi. "
       Youngmin tersenyum dan kemudian ia membalikkan tubuhnya. ' Semoga Hyunso berbahagia dengannya. ''
THE END
Yup. Ini baru endingnya.. hahahaha
Gimana,gimana,gimana ?
Bagus tak ? Apa kurang bagus ?

DON'T BE SILENT READER YA !!!
yg koment aku doakan bsa ketemu ma bias :)

6 comments:

  1. Devina
    Bagus,keren \(≧∇≦)/

    ReplyDelete
  2. keren..!!
    si kembar kwangmin n yongmin bener2 bikin gemes..

    ReplyDelete
  3. Ceritanya bagus banget .. ;)

    Jangan lupa bikin yg lebih keren & menarik lagi ya ^_^
    Smoga bsa membuat krya yg lebih kren dan menarik lgi :)

    ReplyDelete

Jangan lupa tulis nama kalian sebelum komentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KAMSAHAMNIDA

Profile

My photo
Pangkalan Bun, Kalteng, Indonesia
Saya buat BLOG ini untuk berbagi dengan teman-teman penjelajah dunia maya.... WELCOME TO MY BLOG :)