Monday, July 2, 2012

FF - Enervated Love//ONESHOOT//SHINee-Onew

Berhubung FF Something belum di post kelanjutannya sama authornya...
Ini admin bawain FF lainnya dulu yah...
===================Happy Reading=======================

TITLE               : Enervated Love
MAIN CAST      :  Lee Jinki (SHINee)
                        Kim Rin Young
                        Lee Junho (2PM)
GENRE             : entah mengapa selalu ROMANCE, Little Angst
LENGTH           : ONESHOOT
AUTHOR          : MutiaMia Andara
DISCLAIMER    : Plot ini punya aku.. Main castnya hanya semuanya punya Allah SWT..
Be a GOOD Reader ya 
“ Oppa..”
“ Hmm ?”
“ Saranghae..”
“ Nado Saranghae, Rin Young-ah. Tapi kau tahukan kalau aku sudah punya yeojachingu ?  ”
=========
             Aku menghela nafas. Lagi. Ini sudah kesekian kalinya aku menghela nafas. Entah mengapa perasaanku selalu terasa berat. Ya. Bahkan sangat berat setelah tahu bahwa Junho oppa mempunyai yeoja chingu. Padahal dia tahu bahwa aku sangat menyukainya. Entahlah apa yang ada dipikirannya. Setiap aku menyatakan rasa sukaku, dia akan menjawab,” Aku juga. Tapi, kau tahukan kalau aku sudah punya yeoja chingu ? ” dan setelah itu ia akan meminta maaf kepadaku. Hal itu sudah berulang kali terjadi.
Semakin lama aku semakin muak. Muak karena merasa perasaanku dipermainkan olehnya. Muak karena ia tidak mengerti apa yang kurasakan. Sakit. Perih. Hatiku ini terasa ditusuk oleh ribuan jarum. Begitu sakitnya sampai air matapun tidak sanggup terjatuh. Aku hanya bisa pasrah melihatnya bermesraan didepanku. Aku benci saat – saat seperti itu. Tapi entah mengapa rasa cintaku ini tidak bisa dengan mudahnya hilang begitu saja. Seperti benalu yang menempel pada pohon-pohon besar. Rasa cinta ini sudah benar-benar mengakar dalam hati.
Aku menatap kosong buku yang sudah dari tadi ada dihadapanku ini. Tidak membuka halamannya sama sekali. Masih halaman yang sama saat aku duduk disini 30 menit yang lalu. Di perpustakaan kampus. Disinilah tempat yang nyaman bagiku untuk menumpahkan segala penatku selain di atap kampus.
Kenapa sekarang aku disini ? Bukan di atap kampus dimana aku bisa menghirup udara segar sebanyak-banyaknya ? Karena disana sedang terlihat sepasang kekasih yang sepertinya sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Aku tidak ingin mengganggu dan juga aku tidak ingin melihatnya. Melihat Junho Oppa dengan yeoja chingunya. Issh, rasanya aku ingin berteriak dihadapan mereka berdua kalau aku muak. Ingin menangis sekencang-kencangnya dihadapan mereka kalau hati ini sakit. Sakit rasanya dikoyak-koyak seperti ini.
Nafasku terasa berat. Terasa sesak didada. Kenapa air mata ini tidak bisa keluar ? Kenapa tidak bisa mengalir ? Apakah sudah kering karena saking seringnya hatiku disakiti ? Kupegang dada sebelah kiriku. Kuremas bajuku menahan rasa sakit yang sangat terasa.  Appo.. Neomu appo..
=======
Kulangkahkan kakiku dengan perasaan yang  berat. Segera menuju keruang musik dimana mata kuliahku selanjutnya akan dimulai. Beberapa meter sebelum aku memasuki ruang musik, seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh dan mendapati seseorang dengan eye’s smile nya yang sangat menawan tersenyum padaku.  “ Jinki-ssi ? ”
“ Annyeong Rin Young-ssi. ”
“ Annyeong. Sedang apa kau disini, Jinki-ssi ? ”
“Aku ? Bukankah hari ini kita ada kelas musik bersama. Kau lupa ? “ aku menepuk Jidatku. “ Oh iya. Mianhae.”
“ Gwenchana. Kajja kita masuk. ” Dan kulihat Jinki menggenggam tanganku dan membawaku ke ruang kelas.
Lee Jinki. Dia adalah tetangga sekaligus teman satu kuliahku. Perlakuannya sangat baik terhadapku. Walaupun terkadang aku bersikap dingin kepadanya, ia selalu memberikan senyuman terbaiknya kepadaku. Entah mengapa aku merasa nyaman didekatnya. Bersama dengannya membuatku sedikit melupakan rasa lelah ku karena memikirkan Junho Oppa.
=======
JINKI POV
Sedari tadi aku memperhatikan tingkah lakunya. Kulihat ia berjalan dengan sangat lemas. Seperti ada beban berat yang dipikulnya. Sudah beberapa minggu ini ia tidak terlihat seperti Rin Young yang biasa. Rin Young yang ceria dan selalu tertawa lepas. Sekarang ini ia menjadi Rin Young yang tidak bersemangat, selalu tersenyum dengan paksa dan terlihat menyedihkan.
Aku ingin sekali bertanya kepadanya kenapa dia seperti ini. Aku ingin ia membagi semua bebannya kepadaku. Namun aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa baginya. Aku hanya seorang tetangganya yang secara kebetulan satu kampus dengannya. Benar. Hanya seperti itu dan tidak lebih.
Aku memberanikan diri untuk bertemu dengannya. Kutepuk bahunya pelan dan seperti biasa, kuberikan senyumanku yang terbaik untuknya. Kulihat ia menoleh dan berkata, “ Jinki-ssi ? ”
“ Annyeong, Rin Young-ssi. ” Sapaku padanya.
“ Annyeong. Sedang apa kau disini, Jinki-ssi ? ” Dia bertanya kepadaku. Tidak ingatkah ia kalau aku juga mengambil kelas musik ?
“ Aku ? Bukankah hari ini kita ada kelas musik bersama. Kau lupa ? “ Aku mengingatkan kepadanya. Lalu  aku lihat ia menepuk Jidatnya. “ Oh iya. Mianhae.” Tuh kan dia lupa. Astaga, apakah aku ini orang yang cepat diingat dan juga cepat dilupakan ?
“ Gwenchana. Kajja kita masuk. ” Aku tersenyum simpul menanggapinya. Lalu kuraih pergelangan tangannya dan mengajaknya masuk. Kulihat ia tidak menolak dan membiarkanku menariknya kedalam ruangan musik. Didalam sana sudah terdapat beberapa anak yang duduk menempati kursi yang tersedia. Aku mengajaknya duduk dibangku paling belakang. Dan disana hanya tersisa 2 kursi. Aku segera menariknya kesana dan mendudukannya di salah satu kursi. Aku pun juga mengambil tempat disampingnya.
Mrs. Kim masuk tepat saat bel masuk berbunyi. Aku memperhatikan beliau menjelaskan berbagai instrumen musik yang saat ini sedang ia tunjukan. Piano, biola, gitar, harpa dan masih banyak lagi. Tapi dari berbagai macam alat musik itu, hanya satu yang aku kuasai. Piano. Tidak banyak yang tahu kalau aku ahli dalam memainkannya. Jujur saja, aku hanya ingin menampilkan kemahiranku bermain piano  kepada yeoja chinguku kelak. Dan aku berharap yeoja yang  ada disampingku ini lah yang akan melihatnya.
============
AUTHOR POV
Rin Young tengah menunggu bus yang akan membawanya pulang kerumah. Halte kala itu terlihat sangat ramai mengingat jam segini adalah waktunya orang-orang kantor pulang kerumah. Beberapa menit kemudian bus pun datang. Rin Young berdiri dari duduknya dan hendak naik. Namun langkahnya terhenti mendengar seseorang memanggilnya. Saat menoleh, didapati Junho tengah melambai kearahnya.
Rin Young melihat sekilas kearahnya , memberikan senyum singkatnya lalu segera naik kedalam bus. Lalu ia menuju bangku paling belakang disamping jendela. Ia menghempaskan dirinya dibangku itu lalu menyandarkan kepalanya dijendela. Melihat jalanan yang banyak dilalui oleh banyak orang. Ia sudah lelah. Lelah menghadapi hari-hari yang selalu saja seperti ini. Ia ingin segera sampai dirumahnya lalu menghempaskan tubuhnya dikasur empuk yang sudah menantinya dikamar.
Bis tengah berhenti dihalte selanjutnya. Rin Young tidak memikirkan keadaan sekelilingnya. Ia hanya sibuk dengan pikirannya tanpa menyadari seseorang sudah memerhatikannya dari tadi.
Menyadari bus sudah hampir tiba di tempat yang ia tuju, Rin Young segera berdiri dan berjalan mendekat kearah pintu. Namun bis tiba-tiba rem mendadak. Membuat Rin Young tidak bisa menjaga keseimbangannya. Sebelum Rin Young tersungkur, seseorang sudah memegang erat pinggang Rin Young.
Rin Young menyadari ada sesuatu yang memegang pinggangnya dan menoleh. Ia mendapati kalau Jinki tengah memegangnya agar tidak terjatuh. Lalu dengan perlahan Jinki membetulkan posisinya. “ Gomawo, Jinki-ssi. ” Ucap Rin Young. Ia menundukkan kepalanya sekilas tanda berterima kasih.
“ Kau tidak usah sungkan. Lain kali berhati-hatilah. ” Jinki mengusap pelan rambut Rin Young. Membuat Rin Young menatap Jinki. Semburat merah muncul dari pipi mulus Rin Young. Sesaat kemudian Rin Young menundukkan wajahnya. Malu.
“ Ayo kita turun. Kita sudah sampai. ” Jinki menggenggam erat tangan Rin Young dan menariknya. Mereka berdua turun dari bis dan berjalan menuju rumah mereka. Rumah Jinki hanya berbeda 2 rumah dari rumah Rin Young. Sangat berdekatan.
Mereka berjalan dalam diam. Tidak ada satupun yang berani memulai pembicaraan.  Masih dengan Jinki yang memegang erat tangan Rin Young. Hanya tinggal beberapa meter lagi sampai di depan rumahnya, Rin Young melepas genggaman Jinki perlahan dan tersenyum.
“ Gomawo sudah mengantarku sampai sini. Dan juga gomawo sudah menolongku tadi. Aku tidak tahu bagaimana keadaanku tadi kalau tidak ada kau. ”
“ Sudah aku bilang kau tidak usah sungkan. Kita ini kan teman. Teman akan saling membantu, benarkan ? ” Ucap Jinki tersenyum.
“ Kau benar. Kalau begitu Annyeong, Jinki-ssi. Sampai jumpa besok. ” Rin Young membuka pagar rumahnya dan melenggang masuk. Namun langkahnya terhenti melihat sebuah mobil terparkir didepan garasi mobil. Mobil yang sudah sangat ia kenal. ‘ Untuk apa dia kemari ? ’
Rin Young melenggang masuk kerumah. “ Aku sudah pulang. “ Mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang sudah tersedia. Berjalan pelan agar ia tidak harus bertemu dengan orang itu. “ Rin Young-ah..” Panggil yeoja paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah eommanya dari ruang tamu. ‘ Aishh, gagal sudah. ’
“ Ne eomma. ” Rin Young berjalan perlahan keruang tamu. Dan ia melihat eommanya dan orang yang sedang tidak ingin ia temui duduk disofa sedang minum teh bersama.
“ Rin Young-ah, Junho katanya ingin bertemu denganmu. Eomma tinggal dulu ya biar kalian bisa mengobrol. ” Eomma Rin Young berdiri dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Rin Young mendesah keras lalu duduk berhadapan dengan Junho.
“ Tumben oppa kemari. Ada apa ? ” Tanya Rin Young datar.
“ Kenapa kau menghindar dariku ? ” Junho bertanya langsung to the point.
“ Menghindar ? Aku ? ”
“ Ne. Kenapa tadi kau begitu saja pergi padahal kau tahu kalau aku memanggilmu ? ”
“ Oh. Itu. Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin cepat-cepat pulang dan beristirahat. Tidak ada maksud lainnya. ”
 “ Benarkah ? Apakah aku punya salah padamu ? Aku merasa sekarang kau menghindar dariku. ”
‘ Banyak oppa. Sungguh banyak masalah yang kau timbulkan. ’ Batin Rin Young. “ Tidak. Kau tidak punya salah. Aku hanya tidak ingin diganggu saja. ” Ucap Rin Young seadanya.Kepalanya tertunduk. Matanya tidak berani menatap Junho. Ia takut dengan melihat Junho saja, sudah bisa membuat air matanya turun.
“ Tatap aku, Rin Young-ah. Sejak kapan kau berbicara padaku dengan wajah tertunduk seperti itu ? ” Junho berdiri dan berjalan menghampiri Rin Young yang duduk dihadapannya. Perlahan, ia duduk disebelah Rin Young dan menyentuh dagu Rin Young. Membuat Rin Young akhirnya menatap Junho.
“ Apakah aku menyakitimu ? ” Tanya Junho pelan. Namun suaranya dapat didengar oleh Rin Young.
Rin Young terpaku sejenak lalu menggelengkan kepalanya. “ Aniyo. Kau tidak menyakitiku oppa. ”
“ Kau tidak suka aku bersama dengan Min ? ”
“ Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu kan ? Oppa pasti sudah tahu jawabannya.” Ucap Rin Young lirih.
“ Mianhae. ” Junho menarik Rin Young dalam dekapannya. Membuat Rin Young tenggelam didalam dada bidang Junho.
“ Oppa tidak perlu meminta maaf. Sudah aku katakan berkali-kali bukan ? ” Rin Young dengan perlahan melepas pelukan Junho. Menatap Junho dengan senyum sendunya.
“ Jangan pernah memberikan harapan palsu padaku oppa. Aku mohon dengan sangat kepadamu. ” Rin Young berdiri. “ Aku ingin istirahat. Oppa boleh pulang sekarang. Jaljayo. ” Rin Young membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh.
Junho menatap miris punggung Rin Young yang semakin jauh.
****
“ Kau mau kemana malam-malam begini, Rin Young-ah ? Diluar sangat dingin. ” Tanya eomma Rin Young yang heran melihat anaknya tengah memakai sepatu.
“ Aku ingin ke mini market sebentar eomma. Ada yang ingin aku beli.  ” Jawab Rin Young.
“ Jangan lama-lama ya. Dan hati-hati. ”
“ Ne eomma. Kalau begitu aku pergi dulu. ” Rin Young membuka pintu rumahnya. Terasa terpaan angin yang sangat dingin menerpa wajahnya. Ia mengeratkan syalnya dan mulai melangkah. Sebenarnya tidak ada yang ingin ia beli. Ia hanya ingin mencari angin segar. Melupakan semua penat yang ia rasa.
Rin Young ingin sekali bercerita kepada eommanya, tapi itu tidak mungkin. Ia tidak mau merusak hubungan Junho dengan eommanya itu. Lalu kepada siapa ia bercerita ? Jinki kah ? walaupun mereka berdua dekat, tapi Rin Young masih belum ada keberanian untuk bercerita kepadanya.
Langkah kakinya membawanya kesebuah taman bermain kecil. Dengan 2 ayunan yang ada disana. Rin Young segera mengambil tempat disalah satu ayunan tersebut. Mengayun-ayunkan dengan perlahan. Menikmati hembusan angin yang dingin.
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Rin Young menghentikan aktivitasnya. Mendengar seksama suara langkah kaki itu. Jantungnya berdegup kencang, ‘ Orang jahatkah ? kalau bukan, siapa ? ’ batin Rin Young. Langkah kaki itu semakin dekat. Rin Young tidak berani untuk bergerak sedikitpun. Ia memejamkan matanya. Takut sesuatu terjadi padanya.
Beberapa menit berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Malah ia merasa sekarang ada seseorang yang mendorong pelan ayunan yang ia duduki. Rin Young membuka matanya dan mendongak. Terlihat wajah seseorang yang sangat ia kenal. Tersenyum menampilkan eyes smile nya. “ Jinki-ssi ? ” Rin Young menghela nafas lega.
Jinki kemudian berjalan. Mengambil tempat diayunan yang satunya. “ Kenapa kau menghela nafas seperti itu ? Kau sepertinya lega karena yang datang bukan penjahat ya ? ”
“ Ya. Benar. Kau itu mengagetkanku saja. ” Rin Young pura-pura marah.
“ Ahahaha. Mianhae, Rin Young-ssi. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin mengampirimu saja yang sedang menyendiri disini. Apakah aku menganggu ? ”
“ Ani. Aku malah sangat senang ada teman disini. ” Ucap Rin Young.
“ Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan disini malam-malam begini ? ”
“ Hanya mencari angin segar. ” Jawab Rin Young seadanya dan memang itulah kenyataannya.
“ Mencari angin segar ? di jam segini ? tidakkah itu salah ? seharusnya kau mencari angin segar pagi-pagi, Rin Young-ssi. ”
“ Kau benar Jinki-ssi. Sebenarnya aku hanya ingin sedikit melupakan masalahku sejenak. ”
Jinki terdiam. Ia ingin sekali bertanya masalah apa yang sedang dihadapi Rin Young sampai mengubah sifatnya seperti itu.
“ Masalah yang membuat kau jadi seperti ini ? Yang membuat aku merasa bahwa kau bukanlah Kim Rin Young yang kukenal ? ” Jinki tiba-tiba berkata seperti itu. Membuat Rin Young menatapnya.
“ Ah, mianhae Rin Young-ssi. Aku tidak bermaksud seperti itu. ” Jinki terlihat salah tingkah. Ia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan.
“ Gwenchana. Kau benar Jinki-ssi. Aku juga merasa kalau ini bukanlah diriku. ” Rin Young membenarkan ucapan Jinki. Memang benar masalah ini membuatnya merasa kalau itu bukanlah dirinya. Hanya karena ‘Cinta’ ia menjadi seperti ini.
“ Mian kalau aku terkesan ikut campur Rin Young-ssi. Tapi, maukah kau menceritakannya padaku ? Siapa tahu aku bisa sedikit mengurangi bebanmu ?  ” Kata Jinki. Ada nada hati-hati dalam suaranya. Takut-takut ucapannya menyakiti Rin Young.
“ Yah, mungkin aku memang harus bercerita pada seseorang. Aku tidak mungkin menyimpannya sendiri dalam hati bukan ? ” Rin Young tersenyum sendu. Dan ia memulai ceritanya dari awal hingga akhir.
Jinki mendengarkannya dengan baik. Sesekali ia mengangguk dan bergumam. Awalnya Rin Young bercerita dengan nada datar. Tanpa emosi. Namun perlahan-lahan, suaranya terdengar bergetar. Jinki tahu sebentar lagi Rin Young akan menumpahkan penatnya selama ini. Dengan mengeluarkan air mata yang mungkin sudah lama tidak ia keluarkan. Dan benar dugaannya. Rin Young menangis. Terdengar isakan yang cukup keras dan terdengar pilu.
“ Aku... Hiks..Hiks.. Sudah tidak tahan. Hiks..Hiks.. Dengan perlakuannya yang sepeti ini. Hiks. Aku benar-benar.. Sudah tidak tahan. ” Ucap Rin Young disela-sela tangisannya. Jinki yang mendengarnya merasakan rasa sakit yang amat perih. Tepat di ulu hatinya. Terasa sangat perih mendengar Rin Young menangis pilu seperti itu.
Jinki berdiri dari tempatnya dan menghapiri Rin Young. Ia berlutut didepan Rin Young dan kemudian ia menarik Rin Young dalam dekapannya. “ Menangislah.. ”
Mendengar suara Jinki ditelinganya semakin membuatnya sedih. Rin Young membiarkan Jinki memeluknya semakin erat. Dan ia membalas pelukan Jinki.  Menangis dalam dekapan hangatnya.
 Tangisan yang sudah ia tahan selama ini akhirnya keluar setelah ia bercerita kepada Jinki. Dengan mudahnya ia menumpahkan semua kesedihannya kepada Jinki. “ Tumpahkan semua yang ada dibenakmu, Rin Young-ah. Tumpahkan semuanya agar kau tenang. ” Ucap Jinki lembut. Membuat Rin Young semakin terisak dan tangisannya semakin kencang.
“ Kau harus membagi beban mu kepadaku, Rin Young-ah. Jangan kau pendam sendirian. Biarkan aku merasakan sakitmu. Biarkan aku merasakan sedihmu. ” Suara Jinki bergetar. Air matanya ikut mengalir. Ikut merasakan sedih yang dirasakan oleh yeoja yang ada didekapannya ini.
Entah sudah berapa lama mereka menangis bersama. Sampai akhirnya suara tangisan itu mereda. Masih dalam dekapan Jinki. Masih dalam sentuhan lembut Jinki yang mengelus-elus rambutnya. Rin Young sudah sedikit merasa tenang. Perlahan ia melepas pelukan Jinki. Dan menatap manik mata Jinki.
“ Gomawo, Jinki. Gomawo kau sudah mau mendengarkan semua keluh kesahku. ”
Jinki tersenyum, “ Sudah aku bilang, kita ini teman bukan ? Kau jangan sungkan padaku. Dan kembalilah menjadi Kim Rin Young yang dulu. Yang ceria dan selalu tertawa lepas. Ara ? ”
Rin Young membalas senyuman Jinki. Senyuman tulus yang sudah jarang sekali ia perlihatkan kepada orang lain. Lalu ia menggangguk. “ Ara. Aku akan kembali menjadi Rin Young yang dulu. ”
 “ Bagus kalau begitu. “ Jinki berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Rin Young. Rin Young menggapai tangan itu dan membiarkan Jinki menariknya. Kini mereka sama-sama berdiri dan berdekatan.
“ Rin Young-ah ? ”
“ Hmmm ? ” Rin Young menatap Jinki. 
“ Bolehkah aku ? Bolehkah aku masuk kedalam kehidupanmu agar kau bisa membagi bebanmu itu padaku ? ”
****
Rin Young diam terpaku. Sudah lebih dari 30 menit ia hanya seperti ini. Terdiam ditaman kampus yang rindang. Tanpa mengubah gerakannya sedikit pun. Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Walaupun Jinki tidak memaksa ia untuk menjawabnya, tapi ia merasa tidak enak dengan Jinki.
Jinki orang yang sangat baik. Sangat baik. Rin Young  juga nyaman berada didekatnya. Ia merasa selalu aman berada didekat Jinki. Tapi ia masih belum mengetahui perasaan seperti apa yang ada dihatinya. Apakah masih mencintai Junho ? Atau tidak ?
“ Awww..” Rin Young berjengit. Pasalnya ada sesuatu yang dingin menyentuh pipi Rin Young. “ Jinki-ya... Bisakah kau tidak... “ perkataan Rin Young terhenti melihat seseorang yang ternyata bukanlah Jinki. “ Oppa ? ” Rin Young menjadi tidak enak pada Junho. Mengingat ia salah menyebutkan nama Junho.
“ Siapa itu Jinki ? ” Tanya Junho yang langsung mengambil tempat disampingnya.
“ Ne ? ” Rin Youg pura-pura tidak mengerti.
“ Jinki.. siapa dia ? kenapa kau mengira aku itu dia ? ”
“ Oh, dia temanku. Dan juga tetanggaku. ”
“ Tetangga ? Bukan namja chingumu ? ” Tanya Junho. Ada sedikit nada sinis dalam suaranya, namun Rin Young sepertinya tidak menyadarinya.
“ A...ani. Dia bukan namja chinguku. ” Jawab Rin Young gugup.
“ Hmm, baguslah. Lalu, untuk apa kau memanggilku kemari ? ”
“ Aaa, itu.. Begini oppa.. Hmmm..” Rin Young terlihat bingung.
“ Ne ?  ”
“ Ada seseorang yang ingin.. Ingin mengenalku lebih jauh lagi.”
“  Apa maksudmu ? ” Tanya Junho tidak mengerti.
“Yah, maksudku dia ingin mengenalku luar dalam..” Ucap Rin Young sedanya.
“ Tidak boleh ! ” Junho mengatakan itu dengan tegas.
“ Waeyo ? Dia kan hanya ingin mengenalku lebih jauh oppa. Apa salahnya ? ”
Junho tidak mengindahkan pertanyaan Rin Young, “ Siapa yang mengatakan itu ? Seseorang yang bernama Jinki kah ? “
“ Ne. Benar. Jinki lah orangnya. “
” Tidakkah kau mengerti ? Bila namja sudah mengatakan itu padamu, berarti dia ingin menjadi namja chingumu. Kau tahu ?! ” Kata Junho.  Ada sedikit nada emosi dalam suaranya.
“ Aku tahu ! Aku tahu ! Tapi kenapa oppa melarangku ? Atas dasar oppa melarangku ? Toh aku tidak marah oppa jadian dengan Min. Bahkan Oppa tidak mengatakannya kepadaku kalau kau sudah jadian dengannya begitu lama. Oppa tahu kan kalau aku..menyukai oppa ?! “ Rin Young sedikit kesal dengan sikap Oppanya itu. Junho terdiam. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
“ Itu.. Itu berbeda. ”
“ Berbeda apanya oppa ? Itu sama saja. ” Nada suara Rin Young mulai meninggi. Nafasnya tersengal-sengal menahan emosi.
“ Rin Young-ah..” Seseorang memanggil Rin Young. Junho dan Rin Young menoleh bersamaan dan terlihat seorang namja tengah melambaikan tangannya. Rin Young balas melambai. Ia menghela nafas sejenak. “ Mian Oppa. Temanku sudah menjemput. ” Rin Young berdiri, hendak meninggalkan Junho. Namun Junho menggenggam tangan Rin Young. Erat. “ Jangan pergi. ” Ucap Junho lirih.
“ Oppa, bisakah kau melepas genggamanmu ? Tanganku sakit. ” Rin Young mencoba melepaskan tangan Junho namun nihil.
“ Apakah kau sudah tidak menyukaiku lagi ? ” Junho mengabaikan ucapan Rin Young dan menatap Rin Young, dalam. Rin Young hanya diam terpaku. Tangannya mulai perlahan terlepas dari genggaman Junho dan Rin Young meninggalkan Junho tanpa menjawab apapun. Junho hanya bisaterpaku melihat Rin Young pergi.
Rin Young berjalan perlahan menghampiri Jinki yang sudah menunggunya.
“ Jinki-ya, sudah menunggu lama ? ” Tanya Rin Young.
“ Ani. Harusnya aku yang bertanya padamu. Kau sudah menungguku lama ? ”
“ Hmm, tidak lama. Hanya 30 menit. ”
“ MWO ? 30 menit ? Aigoo, mianhae Rin Young-ah. Jeongmal mianhae karena menungguku terlalu lama. ” Jinki membungkukkan kepalanya berkali-kali.
“ Gwenchana. Tidak masalah bagiku. ” Rin Young tersenyum simpul menanggapinya.
“ Sekali lagi mianhae. ”
“ Sudahlah. Ayo kita cepat. Bisa-bisa nanti kita bisa ketinggalan bis nya. ” Ucap Rin Young.
 Jinki menggenggam erat tangan Rin Young. “ Kalau begitu, kajja. ”
****
RIN YOUNG POV
Jinki mengajakku ke sungai han. Dimana disana akan ditampilkan pertunjukkan kembang api. Kalian tahu ? Kembang api adalah salah satu dari 5 hal yang aku sukai. Pertama, aku menyukai Kimbab. Nasi gulung yang diisi dengan berbagai macam sayur dan daging bisa membuatku hmmmm... Terbang*lebay mode on*. Kedua, cokelat. Aku sudah hampir mencicipi semua cokelat di Korea ini. Begitu lezat dan bisa membuatku bahagia. Ketiga, Novel. Asal kalian tahu, jika ada orang yang menanyakan hadiah apa yang aku inginkan saat aku ulang tahun, aku akan menjawab “ Novel.” Aku suka membaca dari umur 8 tahun. Bukan baca buku pelajaran ya, tapi buku komik dan novel tentunya. Baca buku pelajaran hanya akan membuat otakku mumet. Laku yang keempat, aku suka tidur. Begini – begini aku ratu tidur. Bila tidak ada bunyi alarm atau orang yang membangunkanku, aku bisa bangun siang. Paling siang bangun jam 12. Benar-benar ratu tidur. Dan yang kelima, ya kembang api. Karena lewat kembang api, aku bisa merasa tenang.
Waktu tepat memasuki jam 10 malam. Aku dan Jinki duduk ditepi sungai sambil menunggu kembang api yang bermunculan. Tidak ada yang bersuara. Kami hanya saling terdiam dan terpaku dengan pikiran masing-masing.
Pikiranku masih melesat saat kejadian tadi sore. Junho oppa bertanya padaku apakah aku sudah tidak menyukainya ? Jawabannya aku tidak tahu. Jujur, dulu saat dia bertanya apakah aku masih menyukainya, aku akan menjawab dengan pasti kalau aku masih menyukainya. Tapi sekarang, ada rasa ragu yang menyelimuti diriku. Apakah posisi Junho Oppa dihatiku sudah tergantikan dengan orang yang duduk disampingku ini ?
Aku merogoh tasku sebentar. Mencari benda kecil yang sudah sering aku gunakan. Ponsel. Ketika aku menemukannya, aku segera mengetik sms.
To : Nae Oppa
Oppa, mianhae. Aku mungkin akan menjawab pertanyaan Oppa tadi. Mian bila tidak mengucapkannya secara langsung. Tapi inilah jawabanku..
Mian Oppa. Perasaanku padamu sudah memudar. Entah mulai sejak kapan seperti itu. Mungkin hal ini terjadi karena aku sudah tidak kuat melihat kau selalu bermesraan dengan Min didepanku padahal kau tahu aku menyukaimu. Aku..Mungkin sudah jatuh hati pada Jinki. Sekali lagi, Jeongmal Mianhae Oppa. Aku harap kita masih akan terus bersahabat seperti dulu. Tanpa ada rasa suka diantara kita. Dan aku ucapkan, Neomu Neomu Gomawoyo Oppa. ^^


Dan aku tekan tombol send. Menunggu rincian pesan terkirim. Aku menghela nafas. Yah, mungkin inilah saatnya aku memberikan jawaban atas pernyataan Jinki dulu.
“ Jinki-ya...” Aku memulai obrolan. Aku merasa Jinki menoleh kearahku. Namun aku masih tetap memandang kedepan.
“ Ne ? Ada apa Rin Young-ah ? ” Tanyanya.
“ Apakah..Apakah pernyataanmu yang kemarin masih berlaku ? ” Aku bertanya ragu-ragu padanya. Kutolehkan kepalaku, kuberanikan diri untuk menatapnya, dan apa yang aku lihat ? Dia tersenyum. Neomu Kyeopta.
“ Masih sangat berlaku, Kim Rin Young. Dan... apa jawabanmu ? ” Tanyanya serius.
“ Aku...Aku..Aku mengizinkanmu. Mengizinkanmu untuk masuk kedalam hidupku, Jinki-ya..” Diriku sangat malu mengatakannya. Kutundukkan wajahku tanpa ingin melihat reaksi Jinki. Setelah itu yang kurasakan adalah lengan Jinki yang kuat merengkuhku perlahan kedalam pelukannya.
“ Gomawo Rin Young-ah. Gomawo karena sudah mengizinkanku masuk kedalam kehidupanmu. Aku berjanji, akan selalu melindungimu, dan menjagamu sampai akhir hidupku. Jeongmal Saranghae, Rin Young-ah. ” Ucap Jinki lembut. Terdengar suara kembang api yang mengalun begitu indah. Seakan-akan mendukung moment yang sangat berharga untukku.
 Aku tersenyum. Tersenyum karena akhirnya mulai perlahan-lahan aku akan membuat Jinki menjadi satu-satunya namja yang dapat mengisi relung hatiku yang kosong dan menyembuhkan penyakit hatiku akibat luka yang sudah lama tertoreh.
Dan aku berharap, ia akan menjadi namja yang tidak akan pernah membuatku lagi merasakan apa itu yang namanya ENERVATED LOVE.
FIN

Yapppp, ini dia.. Jangan lupa Komentar nya yahh ^^
Awas kalo sampe nggak.. :D

2 comments:

  1. saya kira masih ada sambungannya :( hehe

    ReplyDelete
  2. yaaah... harusnya ada sambungannya tuh heheheh,bagus banget lhoo ceritanya! liked it! ;)

    ReplyDelete

Jangan lupa tulis nama kalian sebelum komentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KAMSAHAMNIDA

Profile

My photo
Pangkalan Bun, Kalteng, Indonesia
Saya buat BLOG ini untuk berbagi dengan teman-teman penjelajah dunia maya.... WELCOME TO MY BLOG :)