Sunday, January 16, 2011

[FF /THE NAME I LOVE/1 shoots]

Title                        : THE NAME I LOVE
Cast                       : Lee JinKi (Onew)
                                Park Jiyeon (Jiyeon)
Other Cast             : Mr. Park
Leght                     : 1 Shoots
Genre                    : Sad, Romance
Author                   : Qisthiamalia JiyeonkeytaeminShawol (in FB)


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
…..Melemah, memudar atau lenyap.
Entahlah~
Rasa ini terlalu sulit untukku lepaskan dari hatiku, terlalu kuat hingga jiwaku tak rela jika namanya yang telah terpatri ini melenyap dan menghilang.
Mencintainya~
Yah, karena terlalu mencintainyalah yang membuatku seperti ini.
Bagai raga yang hidup tapi tak bernyawa
Tuhan~
Kapankah ini semua berakhir. Sungguh, bahkan ini sangat menyesakkanku
Dalam setiap hembusan nafasku hanya namanya yang selalu ku ingat
Dalam setiap detak jantungku hanya suara tawanya yang selalu terngiang
Dalam setiap kedipan mataku hanya senyumnya yang selalu jelas ku lihat.
Saat bibir itu tersenyum, saat mata bulan sabit itu memandangku lekat.
Ach~
Sungguh, bahkan sangat mencintai namja itu, suara tawanya, candanya, celotehnya yang terkadang tak lucu, tingkahnya yang selalu mencoba tegar selalu mencoba tetap tersenyum walau hatinya sangat rapuh. Namja itu, sangat ku cintai bahakan lebih dari hidupku.
Perasaan ini selalu menyesakanku, membuatku terkadang gemetar, menggigil, tersenyum, tegang, gugup, bahkan menangis.
Satu kata~
Yah, hanya satu kata, satu kata yang mungkin mewakili segala hal yang aku rasakan..
Satu kata yang selalu membuat dada ini sesak..
Sungguh~
“Saranghae Yeongwonhi”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“oppa palli….” Berteriak mencoba memanggil seorang namja yang masih berdiri termenung tak jelas.
“yah~ chakkaman…” berlari mengejarku, mengenggam hangat dan erat jemariku dan berjalan bersama.
Hangat~
Sangat hangat saat jemarinya menggenggam jemariku erat, hanya milikku, ya kehangatan ini hanya milikku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi itu salju turun membuat jalanan di daegu sebuah kota kecil di seoul di banjiri buliran salju putih yang cukup tebal. Sementara seorang yeoja cantik masih duduk termenung di bawah pohon cemara yang terkadang menjatuhkan buliran salju itu keatas kepala yeoja cantik itu. terlihat kesal dan sedikit mendengus menghentak-hentakan kaki mungilnya seolah meluapkan kemarahannya.  Matanya semakin menajam, pipinya menggembung saat seorang namja dengan blazer abu-abu menghampirinya.
“hosh..hosh.. mianhe baby..” masih mengatur nafas sambil mengapit kedua tangannya.
“shiroyeo…” kesal yeoja itu sambil mendengus kesal.
“jiyeon~aa…jeongmal mianhe, eoh ?” mengenggam erat jemari mungil itu, membuat si pemilikknya sedikit tersenyum.
“kau tega membiarkan aku membeku di sini oppa, jahat….” Sedikit membentak namun justru malah membuat namja tampan itu tersenyum.
“apa yang lucu…” mencubit lengan namja tampan itu pelan, membuatnya sedikit meringis.
“seikat bunga lili untuk yeoja tercantikku…” membuat semburat merah merona di pipi jiyeon, saat namja itu memberikan seikat bunga lili yang ternyata sedari tadi di sembunyikannya.
“gomawo, onew oppa saranghae…” memeluk erat tubuh onew, merasakan hangatnya tubuh onew yang selalu membuat jiyeon nyaman.
“naddo, jeongmal saranghae…” membalas pelukan itu seraya mengecup kening jiyeon hangat.
“oppa, dahimu…” memegang dahi itu pelan saat melihat sebuah luka segar di sana, namun onew hanya tersenyum..
“gwenchana, hanya luka kecil..” mencoba tetap tersenyum namun kini justru membuat jiyeon menangis..

Tes..
Tes..
Tes..

Buliran bening itu mengalir di pipi jiyeon..
“uljima, eum..” menyeka air mata itu dengan tangan onew yang hangat merengkuh kembali tubuh jiyeon erat.
“mianhe oppa…” membenamkan wajahnya di dada bidang onew dan terus menangis.
“gwenchana jiyeon…” mengelus punggung jiyeon hangat, mencoba membuat jiyeon tenang dan nyaman di sampingnya karena hanya ini yang bisa onew lakukan. Yah, ‘hanya ini’.
“aku  obati yah…” mengambil kapas, alcohol dan sebuah plester di dalam tasnya,
“aww…pelan-pelan..” meringis saat jiyeon membersihkan luka itu dengan alcohol.
“kenapa melakukan ini lagi eum..?” bertanya, sambil menempelkan sebuah plester berwarna hijau di dahi onew.
“……..” hanya tertunduk kemudian tersenyum ke arah jiyeon yang kini tengah memandangnya lekat.
“hanya untuk melihat bibir ini tersenyum, arraseo..” meyakinkan jiyeon dengan senyuman khasnya
“oppa, berhentilah melakukan pekerjaan ini yang justru membuatmu tersiksa seperti ini…” mengenggam erat jemari onew,..
“jiyeon, percayalah aku akan baik-baik saja jika kau selalu di sisiku eum..” menatap mata jiyeon hangat melihat buliran bening itu kembali membasahi pipi jiyeon..
“oppa, jeongmal mianhe..” manatap onew nanar dengan air mata yang semakin membasahi pipinya.
“hey, aku menemuimu bukan untuk melihatmu terus meminta ma’af dan menangis, tapi aku melihatmu untuk melihat bibir ini tersenyum…” menyentuh bibirku hangat dengan jemarinya dan mengecupnya singkat..
“oppa…”berusaha tersenyum memberikan kekuatan untuknya dan diriku sendiri.
“kajja…..” menarik jemariku hangat..
“kemana..?” tanyaku heran sambil berjalan menghampirinya.
“kemana saja asal bersamamu..”tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya dan rabbit smilenya yang errr..membuat siapa saja yang melihatnya akan melelah, sungguh manis, sangat.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sementara di dalam sebuah rumah megah bergaya eropa, seorang namja paruh baya tengah duduk sambil menghisap cerutunya, sesekali menghembuskan asapnya.
“ma’af tuan nona tidak ada di kamarnya..” seorang namja berbaju hitam mengampiri namja paruh baya yang kini tengah tersenyum kecut.
“anak itu, selalu saja..” tetap santai walau terlihat jelas tatapan evil di kedua matanya.
“siapkan mobil,….” Menyuruh namja berbaju hitam itu mengangguk dan berlalu meninggalkan namja paruh baya yang kini tengah berdiri memandang alam luar dari balik jendela ruang kerjanya.
“tak semudah yang kau bayangkan tuan lee jinki…” menyeringai bagai evil terjahat yang dan paling menyeramkan yang pernah ada atau bahkan mungkin ini lebih menyeramkan dan sadis. Yah ‘sadis’.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“jiyeon…”memanggil nama jiyeon yang kini tengah menyandarkan kepalanya di bahu onew sambil memandang tenangnya air di sungai han.
“wae..?” mendoakkan kepalanya memandang mata onew lekat.
“saranghae…” tersenyum seraya mengecup kening itu singkat.
“naddo, jeongmal saranghae…” mengapit lengan onew erat, membuat onew tersenyum.
“jiyeon..” memanggil lagi, namun kini terdengar lebih serius.
“eum..” membenarkan posisi duduknya dan mulai membalikan badannya menghadap onew.
“aku mau kau memakai ini..” mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dari saku blezernya.
“walau harganya tak terlalu mahal namun aku membelinya dengan uang hasil kerja kerasku sendiri, aku harap kau suka…” memberikannya pada jiyeon yang kini mulai membuka kotak itu.
“yeppo…” tersenyum, saat melihat sepasang cincin cantik di dalamnya, ..
“JJ…” sedikit bingung saat melihat sebuah ukiran nama dalam cincin perak itu.
“jinki dan jiyeon..” membuat jiyeon tersenyum saat onew mengatakanannya..
“gomawo oppa….” Kembali tersenyum saat onew memasangkan cincin itu di jari manis jiyeon dan begitu pun sebalikknya.
“kau suka..?” memandang jiyeon lekat,
“sangat, aku sangat menyukai apa pun yang kau berikan oppa..” memeluk onew lagi, hanya untuk merasakan hangatnya pelukan onew dan segarnya wangi lemon yang selalu tercium saat jiyeon berada di dekat onew.

‘BRUK’

Bantingan keras pintu mobil berhasil membuat jiyeon dan onew terkaget. Membelalakan matanya saat tau siapa orang yang membanting pintu.
“mr. park..” onew terkaget saat namja paruh baya itu kini berada di hadapannya,
“appa….” Gumam jiyeon sambil mengenggam erat lengan onew.
“kemari jiyeon…” memerintah jiyeon namun jiyeon hanya menggeleng sambil tetap mengenggam lengan onew erat seolah tak ingin berpisah dengan namja itu sedikit pun.
“KEMARI appa bilang…” menarik paksa lengan jiyeon yang membuatnya meringis dan kini menangis.
“tuan saya mohon jangan sakiti jiyeon…” menatap lekat namja paruh baya itu mencoba mencari sedikit saja rasa kasih sayang namja itu, namun nihil karena yang dia lihat kini hanya kebencian yang ada di namaja paruh baya itu.
“hahaha….” Tersenyum sumbang

‘PLAK’

Menampar onew keras membuat tanda merah di pipi onew yang kini tengah meringis memegang pipinya yang memerah.
“appa…” lirih jiyeon menatap nanar onew, ingin mencoba membantu onew namun tangannya kini tengah di genggam sangat erat bahkan sangat menyakitkan.
“gwenchana eum…” mencoba tetap tegar sambil tetap tersenyum kea rah jiyeon yang kini tengah terisak .
“jangan dekati lagi anakku kalau kau masih tetap miskin seperti ini, arraseo…” membentak onew yang kini hanya bisa mematung seolah merutuki nasibnya sendiri yang terlahir dari keluarga miskin yang sangat mencintai seorang yeoja cantik bernama park jiyeon dari keluarga pemilik perusahaan terkenal di seoul.
“saya akan berusaha tuan….” Yakin onew walau sebenarnya dia tak seyakin itu.
“haha,,,MIMPI..”meremekan onew
“appa,  aku yakin onew bisa….” Ucap jiyeon membuat  namja paruh baya itu menyeringai bagai evil.

‘PLAK’

Menampar jiyeon membuatnya tersungkur jatuh sambil menangis dan meringis kesakitan.
“jangan membelanya…” membentak jiyeon lagi yang kini tengah mencoba berdiri di bantu onew.

‘BUK’

Kini memukul keras perut onew, membuat namja itu kesakitan namun tetap tersenyum seolah semuanya baik-baik saja
“oppa…” mengenggam tangan onew mencoba membantunya berdiri, namun tangannya kini tengah di seret oleh appa nya sendiri..
“ayo pulang..” menarik tangan jieon erat atau mungkin keras hingga membuat jiyeon meringis kesakitan.
“jiyeon…” menatap nanar jiyeon yang kini tengah di paksa masuk kedalam mobil hitam dan kini tengah melaju cepat meninggalkan onew yang masih duduk termenung merutuki dirinya sendiri.
“aku akan berusaha untukmu jiyeon….”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

5 day laters….

“nona makanlah, sudah 5 hari ini nona tidak makan apa pun…” bujuk seorang pelayan pada jiyeon yang kini tengah terduduk lemas di pinggiran kasurnya sambil menatap burung-burung yang terbang bebas di balik jendela kamarnya.
5 hari, yah setelah kejadian itu jiyeon di kurung oleh appanya sendiri.
Menyiksa~
5 hari tanpa bertemu onew sangat menyiksa untuknya, 1 menit saja tak melihat senyuman itu sangat menyiksa untuk jiyeon apa lagi 5 hari sungguh membuatnya ingin mati saja.
“pergilah, aku mau sendiri, …” menyuruh pelayan itu pergi tanpa menoleh sedikit pun karena matanya tetap tepaku pada dua pasang burung merpati yang kini tengah bertengger pada sebuah pohon, sesekali memandang cincin perak yang masih melekat di jari manisnya, tersenyum saat melihat inisila ‘JJ’ yang terukir indah padi cincin peraknya.
“oppa, bogoshipeo…”

Tes..
Tes..
Tes..

Buliran bening itu membasahi pipi jiyeon entah untuk keberapa kalinya dia menangis karena kini matanya mungkin sudah bengkak dan sembab,.
“aku harus pergi, harus…” beranjak dari tempat duduknya, memakai mantel hangat dan sepatunya, kemudian memanjat balkon kamarnya dan berlari menuju semak belukar jalan terbaik untuk kabur dari  para pengawal appanya yang tak kenal ampun dan belas kasihan.
Terus menyusuri jalanan kota mencoba mencari sosok yang ia cari,..
“jiyeon….” Suara merdu yang khas memanggilnya dari arah belakang.
“oppa…” memeluk namja itu erat, mencari kehangatan yang dari dulu dia rindukan, merindukan wangi lemon onew yang selalu berhasil membuatnya merasa hangat dan nyaman.
“kau menangis eoh..?” mengelus pipi jiyeon lembut ketika melihat mata jiyeon bengkan akibat menangis.
“menangisiku eum..?” tersenyum menatap jiyeon yang kini tertunduk.
“bogoshipeo oppa, jeongmal…” lirih namun sangat terdengar membuat onew merengkuh tubuh jiyeon erat mengelus punggung jiyeon hangat.
“naddo, kau tau aku tersiksa tak melihat wajah cantik ini…” tersenyum mengelus pipi jiyeon lembut, mencium bibir itu lembut dan hangat, manis, yah sangat manis,…
“kau kabur lagi eoh..?” bertanya pada jiyeon yang kini mulai duduk di halte bus.
“ne..” mengangguk tanpa menoleh sedikit pun kearah onew yang kini tengah mengenggam erat jemari jiyeon.
“jangan nakal jiyeon, menagapa kau kabur..?” mengais poni jiyeon yang jatuh menutupi mata cantiknya, membuat sang pemilikknya menoleh tajam,
“aku merindukanmu oppa..” merengek sambil memukul bahu onew pelan.
“aww..” onew meringis saat jiyeon memukul bahunya walau sangat pelan.
“oppa, bekerja lagi eoh..?” menatap nanar onew yang kini hanya tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
“oppa, jeongmal mianhe…” memeluk tubuh onew erat, membenamkan wajahnya di dada bidang onew.
“gwenchana, semuanya akan baik-baik saja eum..” merengkuh tubuh jiyeon lebih erat.

Hanya ini~

Yah hanya bersama jiyeon sudah cukup membuatnya lebih baik, melihat wajah cantik ini, melihat senyumnya, merasakan tubuhnya memelukku, mendengarnya merengek manja, cukup, sangat cukup membuat onew nyaman dan lebih baik.
Dia tak perlu apa pun untuk hidup karena hanya dengan jiyeon saja itu sudah cukup.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“nona kabur  lagi tuan….” Lapor seorang pelayan pada namja paruh baya yang kini tengah menghisap cerutunya seperti biasa dengan sangat angkuh.
“bereskan semuanya…” memandang lekat pelayan yang ada dihadapannya yang hanya mengangguk dan berlalu.
“is over mr. lee jinki…” menyeringai bagai evil terkejam yang ada di bumi ini, menyeringai tanpa belas kasihan, kejam, sungguh namja yang sangat kejam.
“is over..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Semilir angin berhembus menerbangkan serbuk-serbuk ilalang dan dandelion yang ada di pinggiran sungai han. Tempat yang paling tepat untuk sepasang kekasih yang kini tengah duduk berdua dengan jemari yang saling menautkan satu sama lain.
“oppa, kapan ini berakhir…” terdengar lirih menatap onew yang kini hanya tersenyum.
“secepatnya jiyeon, yakso….” Tersenyum kecut tanpa menoleh jiyeon sedikit pun.
“saranghae oppa, aku tak ingin kehilanganmu, jebal aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku oppa…” mengapit lengan onew erat
“naddo, aku akan berusaha yang terbaik jiyeon, percayalah..” membalikan tubuh jiyeon dan merengkuhnya erat seakan tak ingin kehilangannya sedetik pun.
“bagus…bagus…”
Seorang namja paruh baya kini tengah tertawa keras di belakang jiyeon dan onew yang kini terkaget melihat siapa yang datang.
“masih berani seperti ini eoh..” membentak onew,
“mian tuan, tapi…”

‘PLAK’

Belum sempat onew melanjutkan pembicaraannya namun tangan besar itu telah memukulnya kasar lebih dulu.
“sadarlah tuan lee jinki anda itu hanya seorang namja miskin yang tak pantas mendampingi anak saya yang merupakan anak dari seorang pemilik perusahaan terkenal di seoul, JANGAN BERMIMPI…” membentak onew seraya memberikan penekanan pada setiap ucapannya.
“appa, jebal….” Memandang mr. park nanar namun dia sama sekali tak perduli, sungguh namja yang tak berprikemanusiaan, atau bahkan kini dia tak punya hati.

‘CLEB’

Seorang namja berbaju hitam menusukan sebuah pisau tepat di jantung onew, yang kini tersungkur jatuh.
“oppa….” Terisak menghampiri onew yang kini tengah meringis kesakitan.
“gwenchana euh..” tetap mencoba tegar walau nafasnya kini mulai tak teratur.
“oppa, jeongmal mianhe…” terus terisak sambil mengangkat kepala onew dalam pangkuannya.
“uljima….” Menyeka air mataku, sambil meringis memegangi dadanya.
“oppa, bertahanlah, aku akan memanggilkan ambulance..” mengambil handphone dari tasku namun tangannya menahanku,
“tak usah, hanya kau yang bisa menyembuhkanku bukan dokter jiyeon..” tetap tersenyum walau kini darah itu semakin banyak keluar membuat nafasnya tersengal-sengal.
“oppa, saranghae jeongmal….” Memeluk tubuh itu erat mencoba memberi kehangatan di saat terakhirnya, mungkin .
Tapi aku harap ini mimpi, sungguh aku tak ingin kehilangan namja ini.
“naddo, jeongmal sarnghae…” mencium bibir ini hangat dan lembut,
Entah berapa lama aku berada dalam posisi seperti ini, sampai tak ku rasakan bibirnya mulai dingin dan tak kurasakan lagi  nafasnya yang hangat di pipiku.
“oppa…” isakku semakin keras saat ku sadari dia menutup matanya dengan sebuah senyum terukir di bibirnya.
Bahkan jika ini sangat sulit…
Bahkan jika ini sangat berat…
Bahkan jika ini sangat menyiksa..
Kau akan tetap di tempat yang sama ..
Dan tak akan pernah ada yang bisa menggesernya, dan walaupun ada dia akan berada di tempat lain oppa, karena tempat kau saat ini terlalu istimewa untuk ku berikan pada yang lain..

“saranghae yeongwonhi..”





~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

3 years laters

“ mianhe aku telat oppa….” Menyimpan seikat bunga lili di atas tanah yang kini telah mengering,
“apa kau merindukanku oppa, eum…” memcium nisan itu hangat sambil membuang beberapa helai daun yang jatuh di atas tanahnya.
“jeongmal bogoshipeo oppa, 3 tahun tanpamu sungguh sangat sulit, tanpa tawamu, senyummu, itu sangat sulit oppa, tapi aku akan tetap berusaha untukmu…” tersenyum menatap langit sambil membayangkan wajah itu tergambar di atas sana, seolah memberikan senyuman terindahnya.
“aku pulang dulu yah oppa, besok aku kesini lagi…” berpamit kemudian tak lupa mencium nisan itu singkat dan berjalan menjauh…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

‘BRUUK’

“ach~ mianhe…” mengambil beberapa buku seorang namja yang tak sengaja aku tabrak karena terlalu bersemangat untuk pergi ke makam  onew oppa.
“gwenchana, gomawo…” tersenyum sambil mengambil buku dari tanganku dan berlalu meninggalkanku yang masih terpaku tak percaya dengan apa yang aku lihat barusan.
“suara itu, mata itu, pipi itu, senyuman itu, bahkan wangi lemon itu…..sangat mirip…..ONEW oppa..”

END
Ottohke ?
Gajekah..?

No comments:

Post a Comment

Jangan lupa tulis nama kalian sebelum komentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KAMSAHAMNIDA

Profile

My photo
Pangkalan Bun, Kalteng, Indonesia
Saya buat BLOG ini untuk berbagi dengan teman-teman penjelajah dunia maya.... WELCOME TO MY BLOG :)